Dokumentasi Pribadi Kiranya sudah dua jam kami bertemu, setelah setahun lebih ia tak menjumpaiku. Aku tidak tahu alasan mengapa ia tega mencuaikan diriku dengan seenaknya. Tanpa pamit, ia pergi. Tanpa kabar, ia menghilang. Hingga pada siang yang terik, ia tiba-tiba mendatangiku dan dengan tergesa mencoba menjelaskan keadaannya. Aku hanya diam. Ia lalu mengajakku ke sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari pinggiran kota. Ia termenung datar di hadapanku. Lamat-lamat aku mengamati, wajah yang aku kenal dulu kini sudah menua. Aku pandangi lagi, tampaknya ia tidak secerdas dulu. Aku tahu ia ingin menumpahkan banyak hal padaku. Menuangkan rasa, mengeluarkan pikiran, memuntahkan beban, tapi semuanya seolah buntu. Ia hanya diam terpaku. Tentu, aku tidak akan mengerti bila ia membisu saja. Meski aku tahu, kita pernah bersama beberapa tahun lamanya. Mungkin seperti dirimu, aku bukan peramal hati. Aku hanya bisa menerka, menebak yang belum pasti. Kopi yang ia pesan tel...