Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

Ragu

Dokumentasi pribadi Hujan gerimis siang tadi menyisakan kerontang di hati Bait-bait kertas yang tertempel di jendela menyapa sendu senja kini Menatapku layu, meski harus tetap tegak karena solasi yang memaksanya rekat pada kusen kayu Jambu Dapatkah kau buatkan segelas teh untukku? Teh panas tanpa gula batu Biar pahit tanin merangsang sarafku Menanamkan jejak lugu di wajahmu Aku sudah bosan lagu itu Biarkan kemayaan yang mendendangkan mereka Gesekkan nada duka di senar viola. Nyanyikanlah, meski aku tak tahu kau kan mampu Biarkan aku berkabung bersama deretan nama dalam kertas kuyu Tak tahu, mungkinkah aku bahagia dalam hati yang lara atau, pantaskah aku memahat nestapa dalam pesta pora Barangkali senyuman Monalisa tahu jawabannya Ciputat, 12 Januari 2015

Jalan Samping

Agak gugup aku menghadapi pendatang ini. Dia adalah orang pertamaku. Seharian duduk di balik kaca kasir dengan lobang di bawahnya membuatku terkesan melihat dirinya datang. Aku mendapatkan pelanggan, seruku senang. Aku tahu, paman lah yang menggiringnya kemari. Paman sedari pagi mondar-mandir di gerbang terminal, atau sesekali nampak di depan loket tempatku duduk. Tersenyum dan menyapaku. "Sabar ya, sebentar lagi kita akan dapat orang kok," katanya menenangkan dirinya yang seolah ditujukan padaku. Aku dibawa paman untuk bekerja di sebuah pelayanan jasa penghubung transportasi. Setelah sekian bulan menganggur, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan ini. Pamanku yang mencarikannya. Sebelumnya aku sudah berusaha mencari-cari pekerjaan, namun belum ada yang awet. Tak cocok. Dua minggu bekerja, sebulan memeras keringat, beberapa hari pulang malam, akhirnya aku malah dipecat. Alasan  pemecatan tidak wajar, tindakanku dianggap merugikan pemilik. Pernah mencoba ke sebuah toko, dit...

Hujan Sore di Akhir Juni

Dokumentasi pribadi Seperti hujan di akhir Juni Kau dan aku Kita dan mereka Putih dan hitam Air dan minyak Laksana hujan di akhir Juni Meski rindu memenjara hati Bulan dan mentari, kabarnya, sua hanya untuk mati Tangis dan tawa, beda dalam selaksa Ramadhan dan Syawal, selisih dalam nurani makna Jauh dan dekat, tanyakan pada mata dan hati yang tak jua bersitatap Layaknya hujan di akhir Juni Barangkali kangen tak tertampung lagi, harap yang tak kunjung terungkap, atau, selarik mimpi yang mendustai? Ah, bagai hujan di akhir Juni Kau dan aku Kita dan mereka … Apa lagi? Sudahlah, Kini aku duduk menanti, redanya hujan sore di akhir Juni Ciputat, akhir Juni 2014 ----Dimuat dalam buletin DENTA edisi V, Juli 2014