Dokumentasi pribadi Entah ragu atau lara yang ku rasa Terkadang luas itu menyesakkan, sakit itu menggairahkan Barangkali lapar akan mengenyangkanku Kenyang dari kecaman ketidakpedulianmu Risih, selalu menghinggapi, entah mana yang dianggap cuek dan entah mana yang disebut peduli Ramai itu menyenangkan Namun sunyi selalu mengasyikkan Ramai dahaga dan haus lara, pun akan indah saat dia terbuka Sepi pujian membawaku sehat sentosa Putih tubuhmu membunyikan genderang, membuatku ingin segera menyerang Kutelan segera lapar yang meyakinkan ribut hati mengerang Jilatan merah membakar tulang Memompa jantung dengan cepat, mengalirkan darah ke setiap sel-sel tubuh Aku bangkit dari segala keterpurukan yang menghimpit diantara dua bukit menjulang Menikam ketidakberdayaan ----Puisi dimuat dalam Tabloid Institut Edisi XXVIII