Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Sekadar Rasa

Dokumentasi pribadi Entah ragu atau lara yang ku rasa Terkadang luas itu menyesakkan, sakit itu menggairahkan Barangkali lapar akan mengenyangkanku Kenyang dari kecaman ketidakpedulianmu Risih, selalu menghinggapi, entah mana yang dianggap cuek dan entah mana yang disebut peduli Ramai itu menyenangkan Namun sunyi selalu mengasyikkan Ramai dahaga dan haus lara, pun akan indah saat dia terbuka Sepi pujian membawaku sehat sentosa Putih tubuhmu membunyikan genderang, membuatku ingin segera menyerang Kutelan segera lapar yang meyakinkan ribut hati mengerang Jilatan merah membakar tulang Memompa jantung dengan cepat, mengalirkan darah ke setiap sel-sel tubuh Aku bangkit dari segala keterpurukan yang menghimpit diantara dua bukit menjulang Menikam ketidakberdayaan ----Puisi dimuat dalam Tabloid Institut Edisi XXVIII

Takziyah

Dokumentasi pribadi Pagi itu, Paini meradang menahan sakit di bale tempatnya tidur. Ia tinggal seorang diri di rumah petaknya yang tidak besar tapi juga tidak kecil. Suaminya, Gimo telah lama meninggal karena penyakit kanker yang menggerogoti parunya. Begitu pula dengan anak tunggal Paini, meninggal karena kecelakaan. Sakit tua Paini membuatnya harus beristirahat di ranjang tiap hari. Paini melirik jam dinding yang menggantung di gedhek rumahnya, tampak sarang laba-laba menghitam menutupi muka jam. Paini perlu menajamkan mata yang sudah lemah agar dapat menentukan waktu saat ini. Pukul sembilan, katanya lirih. Wajar, ia rasakan perutnya melilit. Biasanya setiap pagi-pagi sekali, Leli, keponakannya, datang mengantar makanan. Leli akan menemaninya hingga azan dhuhur menegur Leli pulang. Paini memejamkan mata, sekadar untuk mengurangi nyeri pada pinggang belakangnya. Tapi, bukan kegelapan yang ia peroleh dengan menutup mata, malah sederet gambar masa lalu berjalan tanpa bisa i...

Menyapa Pagi

Hidup terkadang berjalan tanpa bisa kita kendalikan, melenceng jauh dari harapan, hingga memunculkan sesal yang berkelanjutan. Begitu pula cinta, meski dengan uraian yang tak serupa. Ketika hidup hanya ada Pengendali hidup dan kita sendiri si pelaku hidup, dalam cinta berbeda. Di dalam cinta ada Penguasa cinta, pencinta, dan yang dicinta. Meskipun subjek ketiga tidak menjadi pelaku, ia turut berkontribusi terhadap ada dan aksi cinta. Kau tahu, saat hidup dan cinta tidak sejalan dengan mimpi harap, aku selalu termenung. Mencoba mengurai setiap kejadian-kejadian yang ada. Teori menyatakan bahwa hidup melangkah atas dasar hukum sebab akibat ataupun hukum inersia menurut orang fisika. Aku bukanlah pengikut sejati Newton yang mengemukakan hukum tersebut tapi tak jarang aku menghubungkan satu kejadian saat ini menjadi akibat dari kelakuanku masa silam. Tapi aku sering terlupa hukum tersebut tidak hanya berlaku kala ini ataupun kemarin, tapi juga esok hari. Aku lalai, kejadian yang t...

Penyakit Paru

Sore syahdu di taman perpustakaan, aku lamban menggesek biola. Bukan karena malas, tapi memang sengaja ku lakukan untuk menikmati alunan yang dihasilkan empat senar nada itu. Riuh rendah pengunjung perpustakaan yang keluar masuk gedung itu tak mengusik rasaku. Tiba-tiba seorang Bapak yang entah sejak kapan berdiri di sampingku, memamerkan tawa renyahnya. Lalu berujar seolah sudah lama kenal, “Kok kalian baru terlihat lagi di sini,” katanya membuka percakapan. Aku menimpali ucapan Bapak tersebut singkat, tapi berusaha menimbulkan kesan sewajarnya. Setelah Bapak itu tak melanjutkan obrolannya, aku kembali menyanyikan lagu dengan gesekan biola. “Tau nggak, bermain biola bisa menyebabkan timbulnya penyakit paru lho,” katanya santai setelah mengisap panjang lintingan tembakau di tangannya. Sedikit terkejut mendengar ucapannya yang tidak biasa, aku menurunkan biola dari pundak untuk pindah ke pangkuanku. “Ah Bapak, jangan bercanda,” sanggahku tidak menerima pernyataannya. ...

Kekecilan

Tergeletak pasrah, tertidur lemah ia di sampingmu. Kau, yang sedang asyik dengan ha-pe sedikit terkejut mendapati dirinya bersender padamu. Sedetik, dua detik, tiga detik, kau tetap bergeming tidak peduli, lebih tepatnya pura-pura acuh tak acuh. Di beberapa detik kemudian, kau mulai meraba dan mengangkatnya dari sandaran. Kau menempelkannya pada pergelangan tanganmu, melepasnya lalu kembali membiarkannya bersandar padamu. Sesorang di sampingmu, yang tiba-tiba terjaga dari tidur bertanya, “Dia milikmu?” katanya polos. Kau pun menjawab tak kalah polos, “Oh bukan,” ungkapmu jujur Setelah terdiam dan sepertinya berpikir cukup lama, kau kemudian berdiri, membawanya masuk ke dalam ruangan. “Maaf, ada yang kehilangan?” tanyamu pada dua orang yang sedang bercengkerama di sisi ruangan. “Ah, oh, ya. Jam tangan putih rantai,” seru salah satunya setelah meraba pergelangan tangan kirinya tanpa adanya ganjalan jam tangan. “Sepertinya ini milikmu,” ujarmu sambil mengembalikan barang...

Palsu

Kau jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama, entah berapa tahun yang lalu. Rea, namanya—nama yang kau berikan padanya—sebuah viola. Ya, agaknya memang terdengar tak wajar. Kau jatuh cinta pada viola, sebuah alat musik gesek yang berasal dari dunia Barat. Bukan jatuh cinta pada manusianya, tapi instrumen musik. Namun, bukankah setiap orang memiliki cintanya masing-masing? Kau pun begitu, kau berhak mencintai Rea, sebuah viola. Kini usahamu untuk mendekatinya telah berhasil. Bersama dengan seseorang yang kau pandang sebagai dokter alat musik gesek, kau membeli viola dari sebuah toko musik di mall kota. Mahal memang, maka itu kau anggap sebagai salah satu bentuk pengorbanannmu untuknya. Uang yang terkumpul dari hasil kerja selama setahun rela kau keluarkan, untuk membuatnya menjadi dekat padamu. Agar kau dapat bercumbu mesra dengan Rea. Dokumentasi pribadi Rea sudah berada di tanganmu. Kau amati detail tentangnya, lembut halus kulitnya, lekak-lekuk tubuhnya, getaran suar...

Bahagia

Suatu sore, aku ingin mengajukan pertanyaan basa-basi ke kawan karena suasana hening yang membuatku tak nyaman. Melihat dia sibuk menggosok bengkahan batu-batu akik yang aku anggap ‘keramat’, aku mendapatkan pertanyaan yang benar-benar basa-basi.  “Apa sih, yang sudah kau peroleh selama sebulan memelihara batu-batu itu, meluangkan diri untuk mengasuhnya setiap hari?” tanyaku akhirnya jelas sekali terdengar dengan nada agak meremehkan. Dia tak menjawab, tak pula mengalihkan arah pandangan. Haduh, pertanyaan basa-basiku terlalu mengultimatumnya, seruku dalam hati. Dia masih saja belum angkat bicara hingga beberapa detik kemudian, sibuk dengan urusan gosok-menggosok. senyap kembali menggelayuti ruang. “Kepuasan, bahagia,” ujarnya santai memecah kebisuan. Aha, dia akhirnya membuka mulut. Tapi aku tak puas dengan jawaban itu, itu jawaban yang lumrah, pikirku. Aku kira ia akan menjawab dengan memperoleh uang, dapat keberuntungan yang tak dinyana-nyana, atau perihal fisik ...

Tutup?

 Dokumentasi pribadi Satu, dua, tiga, empat, dan masih banyak lagi dari mereka yang datang. Ada yang sekadar menengok dari kejauhan, tapi ada pula yang memastikan benar di depan pintu masuk. Mengamati lekat-lekat, mengeja dengan tepat, tulisan yang tertempel di pintu perpustakaan yang masih rapat. T-U-T-U-P. Beberapa dari mereka segera melihat pergelangan tangan. Bagi mereka yang tidak punya atau terlupa memakai jam tangan, melihat layar hp, memastikan pukul berapa sekarang. Apakah masih terlalu pagi mereka bertandang? Mereka kira sudah pukul sembilan, bahkan telah lewat setengah jam. Benar, jam telah menunjukkan pukul sepuluh kurang seperempat jam lagi. “Aih, kenapa pintu itu masih saja tertutup? Bukankah seharusnya sudah buka sejak sejam yang lalu?” pikir mereka bertanya-tanya, kesal mendapati kenyataan di depan mata. "Apakah petugas lupa membukanya?" tambah yang lain tidak terima. Satu-dua mulai balik kanan, entah langsung pulang atau mampir dulu ke t...