![]() |
| Dokumentasi Pribadi |
Kiranya sudah dua jam kami bertemu, setelah setahun lebih ia tak menjumpaiku. Aku tidak tahu alasan mengapa ia tega mencuaikan diriku dengan seenaknya. Tanpa pamit, ia pergi. Tanpa kabar, ia menghilang. Hingga pada siang yang terik, ia tiba-tiba mendatangiku dan dengan tergesa mencoba menjelaskan keadaannya. Aku hanya diam.
Ia lalu
mengajakku ke sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari pinggiran kota. Ia termenung
datar di hadapanku. Lamat-lamat aku mengamati, wajah yang aku kenal dulu kini sudah
menua. Aku pandangi lagi, tampaknya ia tidak secerdas dulu.
Aku tahu ia ingin menumpahkan banyak hal padaku. Menuangkan rasa,
mengeluarkan pikiran, memuntahkan beban, tapi semuanya seolah buntu. Ia hanya
diam terpaku.
Tentu, aku tidak
akan mengerti bila ia membisu saja. Meski aku tahu, kita pernah bersama beberapa tahun lamanya.
Mungkin seperti dirimu, aku bukan peramal hati. Aku hanya bisa menerka, menebak
yang belum pasti.
Kopi yang ia
pesan telah berganti tiga kali. Tapi ia tetap bungkam.
Banyak perubahan
yang terjadi pada dirinya semenjak terakhir bertemu. Gelas kopi yang ia minum
cepat berganti. Ia terlihat tak sabaran. Kali keempat ia memanggil
pelayan. Kini
ia tidak memesan kopi lagi, ia meminta tagihan harga.
****
Masih seperti kemarin
di kafe yang sama pada bangku yang sama pula, bangku dekat jendela yang berada di sisi agak dalam kafe. Ia hanya memandangku dengan ekspresi yang tidak dapat ditebak. Tanpa suara.
Kafe dan bangku ini begitu spesial. Aku ingat, ia sering menghabiskan
berjam-jam dengan obrolan santai hingga diskusi serius, beramai-ramai dengan
segerombolan kawan atau berdua denganku. Tidak, tidak berdua denganku saja, di
antara kami selalu ada kopi menemani.
Aku masih ingat pula dulu saat ia bercerita tentang dirinya dan hal apapun
yang ia tahu. Mimpi adalah hal yang paling sering ia ceritakan. Ia sangat mudah
tersenyum, ceria, dan yang pasti ekspresif menyusun kata. Terkadang ia nampak
sedih sebab ia sedang berkisah duka, tapi mimik itu akan hilang begitu ia
selesai cerita, ia akan kembali tersenyum. Sayang, itu semua tidak aku temukan
dalam dirinya lagi.
Dua jam. Ia
mulai gelisah.
Setelah tidak
tahan dengan keadaan yang mungkin tidak bersahabat dengannya, ia berujar
dengan pasrah, “Ayo pulang.” Aku masih diam dalam genggaman tangannya.
Sejak empat hari yang lalu kita bertemu dalam keheningan, ia akhirnya berkata
lirih dan menuliskan ejaan yang sama padaku “Aku tidak ingin kehilangan
dirimu.” Aku hanya tersenyum. Aku tidak pernah
meninggalkanmu, kataku dengan lirih pula, berharap ia mendengar apa yang aku
katakan. Tapi aku tahu, bahkan dengan suaraku yang paling keras sekalipun, ia pasti tidak akan
mendengarku.
Setelah sekian
lama senyum itu pun aku lihat kembali, senyum yang sama dengan senyum bertahun-tahun lalu. Ia mengerti
kalau aku tidak pernah meninggalkannya. Ia mulai menggesekkan pena padaku, menuturkan rasa dalam
cerita.

Komentar
Posting Komentar