Langsung ke konten utama

Jalan Samping

Agak gugup aku menghadapi pendatang ini. Dia adalah orang pertamaku. Seharian duduk di balik kaca kasir dengan lobang di bawahnya membuatku terkesan melihat dirinya datang. Aku mendapatkan pelanggan, seruku senang. Aku tahu, paman lah yang menggiringnya kemari.
Paman sedari pagi mondar-mandir di gerbang terminal, atau sesekali nampak di depan loket tempatku duduk. Tersenyum dan menyapaku. "Sabar ya, sebentar lagi kita akan dapat orang kok," katanya menenangkan dirinya yang seolah ditujukan padaku.
Aku dibawa paman untuk bekerja di sebuah pelayanan jasa penghubung transportasi. Setelah sekian bulan menganggur, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan ini. Pamanku yang mencarikannya. Sebelumnya aku sudah berusaha mencari-cari pekerjaan, namun belum ada yang awet. Tak cocok. Dua minggu bekerja, sebulan memeras keringat, beberapa hari pulang malam, akhirnya aku malah dipecat. Alasan  pemecatan tidak wajar, tindakanku dianggap merugikan pemilik.
Pernah mencoba ke sebuah toko, ditolak mentah-mentah karena tak ada ijazah sekolah yang aku serahkan. Penjelasanku mengenai lenyapnya lembar pujaan yang dikeluarkan sekolah gara-gara si jago merah tak sedikitpun didengar. Tanpa berusaha  membantah lebih lanjut, aku pun balik kanan, mengecap kekecewaan yang biasa aku alami itu.
"Ayo, ikut paman saja ke kota," ajak pamanku memberi lowongan masa depan.
"Kerja apa paman?" tanyaku ingin tahu.
"Sudahlah, nanti juga bakal tahu. Mumpung ada kursi kosong," sanggah paman.
Aku sebenarnya kurang suka hal demikian, layaknya membeli buah di pohon yang bunga pun belum ada, mengkhawatirkan. Tapi tatapan mata bibiku menyudutkan langkahku agar turut mengikuti paman ke kota.
Hampir genap dua tahun aku menjadi parasit di keluarga pamanku. Tak enak. Setiap makan selalu terasa diawasi, khawatir bahan makanan habis oleh mulutku.
Sebenarnya tidak murni aku menggantungkan hidup di rumah tangga paman dan bibi. Sesekali kebun belakang rumah membantuku memenuhi kebutuhan hidup. Sayangnya aku tak memiliki minat yang cukup tinggi terhadap bidang perkebunan dan pertanian. Jadi kebun yang seharusnya punya potensi besar hanya mampu memberikan sedikit nafkah pada diri ini.
Parahnya lagi kebun ini sering didatangi kelelawar-kelelawar yang beraktivitas siang. Seperti beberapa bulan kemarin, saat aku hendak mengambil daun pisang pesanan orang, sejumlah pemuda tampak menjauh terbirit dari kebun satu-satunya peninggalan keluarga. Sepertinya mereka mencuri sesuatu dari sana. Ah, mereka malah menjadi parasit dalam parasit. Aku terkekeh menyadari hal itu.
Kebun itu satu-satunya harta yang aku miliki setelah kebakaran yang terjadi dua tahun lalu. Tak ada yang bersisa. Rumah serta isi dan penghuni, yakni keluargaku telah menjadi uap dan abu. Aku sendiri yang selamat. Saat itu aku sedang pergi, memenuhi panggilan dari perguruan tinggi. Ah, selamat yang menyusahkan.
Setelah minggu-minggu duka berakhir, atas saran sejumlah orang, aku  segera mengurus surat-surat penting tanah dan kebun yang ditinggalkan keluarga. Tapi ribetnya birokrasi desa ini dan minimnya uang yang aku miliki membuat proses ini berjalan lambat. Begitu pula yang terjadi dengan ijazah sekolahku.
****
Pekerjaanku di tempat paman sangatlah mudah. Aku tinggal menuliskan data-data seseorang dan angka rupiah sesuai rujukan yang tertempel di meja, menerima uang sesuai jumlah, dan bereslah sudah. Tapi buat paman dan rekan-rekannya yang tidak bisa menulis, tentu sulitnya tak terkira.
Sore di hari pertama, kulihat ibu-ibu repot membawa barang mondar-mandir di depan kursi tunggu. Aku ingat, dia adalah pendatang pertamaku siang tadi. Saat aku bertanya mengapa pada ibu itu, katanya bus yang akan ia tumpangi ternyata telah meninggalkan terminal.
“Mobilnya belum datang,” tegas paman memberi jawaban atas pertanyaanku mengenai masalah ibu itu.
“Sudah, kamu balik saja ke tempatmu,” paman menyuruh dengan kasar. Aku pun menurut.
Beberapa saat kemudian, aku lihat paman juga mencoba menenangkan calon penumpang lain dengan kasar. Aku tak mengerti.
Malam berikutnya, aku menunggu kepulangan paman yang selalu pergi usai dari terminal. Entah kemana, ia tak menjawab pertanyaanku. Ia pun tak mengizinkanku ikut serta. Paman selalu penuh rahasia.
Aku menunggu paman di ruang tamu sambil membaca beberapa buku yang sempat aku bawa dari kampung. Dua hari dengan kejadian yang sama membuatku tidak tenang. Calon penumpang yang selalu mengomel, bahkan ada yang hampir terjadi perkelahian, antara paman dengan calon penumpang.
Sepulangnya paman ke kos yang kami tempati, aku menyambutnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Berharap memperoleh jawaban terhadap peristiwa dua hari ini. Tapi paman menolak, ia ingin segera tidur, lelah katanya.
Tiga hari bekerja di tempat yang dikelola paman, aku akhirnya memutuskan untuk berhenti. Aku mengerti apa yang terjadi. Apa maksud amarah pembeli di setiap senja mengakhiri. Aku bekerja di ‘jalan samping’.
Berbeda dengan jalan belakang yang ada di setiap tahun masuk sekolah, perguruan tinggi, kantor-kantor, atau pendaftaran apapun yang aku tahu di tanah ini. Meski istilahnya terdengar lebih baik dari jalan belakang, jalan samping lebih menyesakkan. Jalan belakang itu bersifat simbiosis mutualisme, kedua pihak diuntungkan. Beda dengan jalan samping ini, sifatnya simbiosis komensalisme, satu pihak dirugikan di bawah keuntungan pihak lain.
Aku pulang tanpa izin paman. Karena aku tahu, ia tak akan mengizinkanku pergi. Di antara ia dan kawan-kawannya yang bekerja sama, hanya aku yang dapat menulis, tentu ia tak akan merelakakanku berhenti.
Mendapati diriku pulang tanpa paman, bibi menatap galak padaku.
“Besok aku akan mencari pekerjaan lain,” ungkapku menjawab tatapannya. Aku mulai berani menantang tatapan bibi. Aku punya dasar dan alasan, geramku.
Dengan sedikit pengalaman saat sekolah, aku mendapatkan pekerjaan di sebuah percetakan kecil. Mengetahui kemampuanku dalam mendesain, pemimpin percetakan mengangkatku sebagai layoter.
Setahun kemudian, paman mengikuti langkahku pulang namun dengan menyeret berkanton-kantong hutang. Beberapa hari selanjutnya ia didatangi polisi atas tuduhan penipuan.

Komentar

Populer

Satu Dekade IKAMIFDA: Cukup Bisa Berjalan Saja?

Manusia merupakan satu dari sekian spesies sosial di bumi. Mereka hidup dalam kelompok tertentu dan saling membutuhkan. Barangkali seseorang bisa bertahan hidup seorang diri, di hutan misalnya, tapi ia lantas mati tanpa peninggalan, apalagi keturunan. Tiada kenangan, kesepian. Suram. Tanpa generasi, lantaran manusia bukan makhluk yang bisa bereproduksi sendiri layaknya pohon pisang. Bahkan bila takdir menunjuknya dengan status hermafrodit, ia akan tetap menjomlo. Kecuali jika ia diberi kemampuan berpartenogenesis, sehingga dapat melakukan pembuahan tanpa pasangan. Hmmm. Sudalaa kita membahas kelompok, bukan pasangan ~ Padahal hanya secuil pembahasan tentang pasangan. Tapi baiklah, mari kembali pada kelompok. Kelompok manusia dibentuk atas kesamaan sejarah hingga kesamaan tujuan, gabungan keduanya, atau kesamaan lain yang akan menjadi banyak jika semua pemetaannya disebutkan. Kelompok yang dibentuk sejatinya diharapkan dapat menguatkan jati diri mereka sebagai manusia, mesk...

Fenomena Jelang Tahun Duda yang Menyekik Kegengsian

Dokumentasi Pribadi Agustus kali ini terasa begitu ramai, terutama bagi muslim di daerah Jawa. Selain terdapat dua perayaan besar, Lebaran Haji dan Ulang Tahun RI, ada perayaan lain yang mampu meningkatkan tekanan dan kolesterol darah dalam tubuh. Tumpukan undangan nikah berdesakan merayu dompet yang belum sempat penuh. Yap, sebulan ini banyak orang menyelenggarakan pesta pernikahan. Saking jamaknya, dalam sehari bisa mencapai belasan acara. Bahkan pada hari tertentu yang dinilai baik, akad nikah sekecamatan berlangsung tak kurang 27 kali. Iya, sebanyak 27 ucap akad nikah sah di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, dalam sehari. Itu terjadi tanggal 18 Agustus lalu saat jalanan tampak rasa lebaran. Yang bingung siapa? Petugas KUA, mengatur jadwal agar tak tumpang tindih sekaligus sesuai hasil hitung-hitungan sesepuh penyelenggara acara. Yang ketar-ketir siapa? Yang diundang, meraba-raba isi dompet apakah bisa pindah ke amplop dan tetap cukup untuk ngopi di warkop. Yang gala...

Surat Kartini untuk Bangsanya

Dokumentasi pribadi Saya dikenalkan dengan R.A. Kartini (Raden Adjeng sebelum menikah, Raden Ayu usai menikah) lewat mata pelajaran sejarah sekadar sebagai pahlawan perempuan Indonesia. Kartini perempuan asli Jepara yang lahir pada bulan yang sama dengan bulan lahir saya, April. Hanya beda tipis tanggal dan tentu saja beda jauh tahun lahir. Selain dari tempat dan tanggal lahir, sosok ibu yang fotonya dipasang di dinding kelas Ibtidaiyah saya dulu—sehingga gambar dirinya cukup melekat dalam pikiran—selalu berpakaian kebaya, rambut tersanggul rapi, khas perempuan ningrat Jawa. Kartini, satu-satunya puan yang namanya diabadikan menjadi judul lagu wajib nasional gubahan penyair yang juga mencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia, Wage Rudolf Supratman. Ibu Kita Kartini , judul lagunya. Penghargaan semacam ini tentu tak sembarang diberikan. Menggunakan nada sederhana membuat lagu tersebut akrab dinyanyikan anak-anak, meski tak seluruh lirik tergelorakan hingga terdenga...