![]() |
| Dokumentasi pribadi |
Saya dikenalkan dengan R.A. Kartini (Raden Adjeng sebelum menikah, Raden Ayu usai menikah) lewat mata pelajaran sejarah sekadar sebagai pahlawan perempuan Indonesia. Kartini perempuan asli Jepara yang lahir pada bulan yang sama dengan bulan lahir saya, April. Hanya beda tipis tanggal dan tentu saja beda jauh tahun lahir. Selain dari tempat dan tanggal lahir, sosok ibu yang fotonya dipasang di dinding kelas Ibtidaiyah saya dulu—sehingga gambar dirinya cukup melekat dalam pikiran—selalu berpakaian kebaya, rambut tersanggul rapi, khas perempuan ningrat Jawa.
Kartini, satu-satunya puan yang
namanya diabadikan menjadi judul lagu wajib nasional gubahan penyair yang juga
mencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia, Wage Rudolf Supratman. Ibu Kita
Kartini, judul lagunya. Penghargaan semacam ini tentu tak sembarang diberikan.
Menggunakan nada sederhana membuat lagu tersebut akrab dinyanyikan anak-anak,
meski tak seluruh lirik tergelorakan hingga terdengar asing di telinga.
Banyak wira berlaga di medan perang.
Tidak sedikit pula perempuan turut berjuang demi kemerdekaan. Tapi hanya nama
Kartini yang dimasukkan dalam deretan pahlawan nasional sekaligus lagu wajib
nasional. Bahkan hari lahirnya, 21 April juga ditetapkan sebagai Hari
Kartini yang kerap dirayakan.
Mengapa Kartini begitu istimewa
dibanding liyan? Atau justru mungkin, mengapa Kartini diistimewakan?
Pertanyaan itu terus berselirat di kepala terutama saat menjelang hari
peringatannya, atau kadangkala saat lagu atas namanya didendangkan.
Materi sejarah yang pernah dijejalkan
mengungkap bahwa Kartini merupakan tokoh emansipasi perempuan pada masanya. Ia
acuh dengan nasib perempuan terutama di wilayah pendidikan. Namun kepedulian
jenis ini tak hanya direnjanakan Kartini seorang. Tidak sedikit perempuan yang telah
bertindak nyata dalam bidang pendidikan untuk perempuan. Dewi Sartika merupakan
satu diantaranya. Kendati demikian nama Dewi Sartika masih tidak cukup
menyandingi apresiasi yang dielukan pada Kartini, meski ia menjadi tokoh
perintis lembaga pendidikan bagi perempuan.
Ada rumor yang menyatakan bahwa terdapat
pengubahan lirik lagu tentang Kartini lantaran alasan politis. Pun demikian,
ada pula yang mencibir tanggal 21 April sebagai Hari Kartini. Pengkhususan
peringatan Hari Kartini seolah meminggirkan keberadaan pejuang perempuan lain
yang dianggap mengeluarkan lebih banyak peluh. Padahal perjuangan Kartini tampak
tidak begitu jauh.
Baru-baru ini saya sedikit lebih
banyak tahu Kartini. Tepatnya setelah membaca buku Emansipasi: Surat-Surat
Kepada Bangsanya 1899-1904 yang merupakan terjemahan Door Duisternis Tot
Licht. Buku ini tak jauh berbeda dengan judul buku yang sering muncul dalam
mata pelajaran sejarah bersamaan nama Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang.
Dari buku tersebut dapat diambil selarik simpul sebagai jawaban pertanyaan yang
telah terlontarkan hingga nampak sedikit gamblang.
Kartini dengan segala
kegelisahannya
Kartini memang tak seperti pada
umumnya perempuan Jawa dulu kala yang kudu patuh terhadap adat. Ia
banyak membangkang adat, tapi terkait hak yang ia terima, bukan terhadap
kewajiban yang mesti ia jalani. Ia beruntung lahir dari keluarga priyayi
sehingga dapat menikmati sejumput pendidikan yang memang sulit dicecap kalangan
lain. Jabatan ayahnya sebagai Bupati Jepara juga menguntungkan Kartini dalam
memperluas jaringan pertemanannya.
Kartini mengerti ada ketidakadilan,
eksploitasi, dan penyalahgunaan kekuasaan yang diterima rakyat miskin. Ia
berharap sekali dapat memperjuangkan nasib mereka. Ia berharap dapat turun
langsung menyuarakan gagasannya atau turut angkat senjata melawan penjajah.
Sayang Kartini tak dapat bergerak
bebas, ia terkekang adat perempuan Jawa. Dan keluarganya adalah orang yang
menjunjung nilai tersebut. Maka ia memilih jalan perjuangan lain, ia ingin
mendidik warganya terlebih minimnya lembaga pendidikan untuk semua kalangan
miskin termasuk perempuan. Jika rakyat cerdas, maka mereka tak mudah ditipu dan
dibodohi lagi. Begitu pula dengan memberikan pendidikan untuk perempuan, maka
akan lahir bangsa cerdas dan beradab. Begitu pikir Kartini.
Guru menjadi profesi pilihan Kartini dengan
dorongan untuk menularkan pemikirannya ke generasi penerus bangsa, terutama perempuan.
Gagasan ini diamini juga oleh adiknya, Roekmini. Namun Kartini tidak mau
menjadi guru yang asal mengajar tanpa dasar. Ia ingin memantapkan ilmunya dan
memiliki kompetensi yang mumpuni.
Upaya yang dilakukan Kartini agar
berkompeten sebagai guru adalah mencari jalan bagi diri dan adiknya untuk
bersekolah kembali. Tak hanya dalam lingkup Hindia Belanda (baca: Indonesia),
melainkan di negeri Belanda, tanah Eropa. Baginya di sana banyak ilmu yang
dapat dipelajari.
Banyak usaha yang Kartini dan
Roekmini lakukan agar mendapatkan izin sekaligus beasiswa untuk melanjutkan
sekolah kembali. Sayang mereka batal belajar ke luar negeri, dengan sebab yang tidak
diketahui pasti.
Dari kisah yang ia tuturkan dalam
suratnya, meski ia tidak jadi melanjutkan sekolah, Kartini sempat mengajar
anak-anak meski hanya beberapa bulan saja. Ia mengajar bersama Roekmini di
Jepara sebelum ia menikah dan juga di Rembang bersama suaminya. Sayangnya kala usaha
mulai terbuka, segala cita dan harapan Kartini harus pupus bersama hentinya
gelisah yang terus mendera. Ia meninggal beberapa hari usai melahirkan anak
satu-satunya.
Kartini dan suratnya
Kartini suka menulis dan tentu saja
membaca. Bahasa Belanda yang ia kuasai membantunya mempelajari banyak hal dari
berbagai macam bacaan. Ia juga senang berbincang dengan orang yang mengutamakan
kepentingan masyarakat luas. Hobi Kartini inilah yang membuka pandangannya
terhadap keadaan dan nasib warga sekitarnya.
Di masa hidupnya yang lumayan
singkat—25 tahun—Kartini mengekspresikan kegembiraan, keprihatinan, keresahan,
pemikiran, gagasan, serta citanya dalam surat. Surat-surat pribadi yang ia
kirimkan kepada orang-orang yang pernah ia temui atau sahabat pena yang tak
pernah sekalipun ia jumpa.
Kartini memang tidak angkat senjata
melawan penjajah negeri. Ia juga hanya sempat mengajar beberapa bulan, sangat
jauh dari harapan pengajaran pada perempuan yang ia dengungkan. Kiprah
kepenulisan Kartini pada masa itu juga tidak sehebat Rohana Kudus yang telah
menerbitkan media massa yang dikelola sendiri. Hanya beberapa kali Kartini
mengirimkan tulisan dan dimuat di media massa.
Kartini memang lebih banyak menulis
surat pribadi, bukan buku terbitan atau artikel-opini dalam media cetak. Sebab
dalam surat pribadi, ia merasa lebih leluasa mencurahkan apa yang ia rasa dan
pikir tanpa benturan batasan dan aturan. Inilah yang membedakan tulisan dalam
surat pribadi dengan tulisan lainnya. Mirip buku harian atau catatan perjalanan,
gambaran kondisi dan pemikiran penulis lebih jelas terungkap dalam surat
pribadi daripada jenis tulisan formal lain.
Lepas dari sejumlah kontroversi
mengenai kepopuleran Kartini dibanding pahlawan perempuan Indonesia yang lain,
saya benar sangat setuju dengan pendapat yang diungkapkan Katrin Bandel dalam
Kata Pengantar buku Emansipasi: Surat Kartini Kepada Bangsanya 1899-1904.
“Kita diajak untuk berfokus bukan hanya pada isi surat Kartini, baik dari segi
kandungan informasi sejarahnya maupun pemikiran feminisnya, melainkan pada
semangat yang mendorongnya dalam menulis.”
Demikian, Kartini populer sebab
surat-surat pribadinya yang dikumpulkan lalu dipublikasikan. Semangatnya dalam
menulis tidak disamai orang-orang pada zamannya.
Andai Kartini tidak menulis surat,
sepertinya cerita adanya pawai dan lomba yang diselenggarakan di Hari Kartini
tak akan pernah ada. Bahkan mungkin gambar foto Kartini berkebaya dengan rambut
disanggul rapi yang dipaku di dinding sekolah tak pernah saya temukan. Apalagi
lagu Ibu Kita Kartini, barangkali tidak sempat tercipta.
Tayu, 21 April 2018
23.58 WIS

Komentar
Posting Komentar