Manusia merupakan satu dari
sekian spesies sosial di bumi. Mereka hidup dalam kelompok tertentu dan saling
membutuhkan. Barangkali seseorang bisa bertahan hidup seorang diri, di hutan
misalnya, tapi ia lantas mati tanpa peninggalan, apalagi keturunan. Tiada
kenangan, kesepian. Suram.
Tanpa generasi, lantaran manusia
bukan makhluk yang bisa bereproduksi sendiri layaknya pohon pisang. Bahkan bila
takdir menunjuknya dengan status hermafrodit, ia akan tetap menjomlo. Kecuali
jika ia diberi kemampuan berpartenogenesis, sehingga dapat melakukan pembuahan tanpa
pasangan. Hmmm. Sudalaa kita membahas
kelompok, bukan pasangan ~
Padahal hanya secuil
pembahasan tentang pasangan. Tapi baiklah, mari kembali pada kelompok.
Kelompok manusia dibentuk atas
kesamaan sejarah hingga kesamaan tujuan, gabungan keduanya, atau kesamaan lain
yang akan menjadi banyak jika semua pemetaannya disebutkan. Kelompok yang
dibentuk sejatinya diharapkan dapat menguatkan jati diri mereka sebagai
manusia, meski dengan versi dan penjabaran masing-masing yang hasilnya bisa bermacam
bahkan bersebrangan.
Kelompok-kelompok manusia yang
terbentuk ini memiliki banyak sebutan. Ada keluarga, komunitas, organisasi,
grup—hasil serapan dari bahasa Inggris untuk lema kelompok—partai, bangsa, kelas,
fraksi, paguyuban, massa, ras, regu, suku, klan, hingga manusia itu sendiri merupakan
istilah lain untuk menyatakan kelompok. Banyaknya ragam kelompok membuat satu
manusia bisa menjadi bagian dari sejumlah kelompok sekaligus tanpa harus saling
bertolak.
Organisasi itu bernama
IKAMIFDA
Satu kelompok terstruktur yang
dikenal dengan istilah organisasi dibentuk untuk menanggapi kegelisahan alumni
perguruan di pesisir utara Pati. Madrasah Miftahul Huda (MMH), nama perguruan
itu. IKAMIFDA sebagai kependekan dari Ikatan Alumni Miftahul Huda diambil
sebagai nama untuk organisasi tersebut. Reuni akbar perdana yang berlangsung
pada satu hari di bulan Idulfitri 1430 menjadi penanda berdirinya organisasi
yang diklaim berasas kekeluargaan.
Inisiatif pembentukan IKAMIFDA
mulanya datang dari alumni 2007, Faridlatul Hasanah dan Ulya Khoirotunnisa, saat
sowan ke salah seorang guru, Bapak Asjhari Umar, pada Syawal 1429 atau Oktober
2008. Guru yang mengampu mata pelajaran matematika di Madrasah Aliyah (MA)
Miftahul Huda itu menganjurkan agar dibentuk wadah bagi lulusan MMH Tayu.
Anjuran pembentukan kelompok ini dimaksud untuk mengumpulkan kembali alumni,
tidak sekadar dilepas saat acara akhirussanah usai.
Anjuran Bapak Asjhari kemudian
diteruskan Farid ke Bapak Nasichul Amin yang kala itu menjabat sebagai Kepala
MA Miftahul Huda Tayu. Beliau pun menyambut baik usulan tersebut. Kemudian sejumlah
alumni yang mewakili angkatan 2006 sampai 2008 berunding untuk mengumpulkan massa
lebih banyak dalam suatu acara. Hasilnya, mereka sepakat mengadakan Reuni Akbar
pada Syawal 1430.
Sayangnya karena keterbatasan
teknologi dan media komunikasi kala itu, tak banyak yang dapat terpanggil ke
acara. Banjir yang cukup besar pada tahun 2006 menyebabkan banyak data alumni
yang tak seluruhnya tersimpan rapi dalam sistem komputer atau internet turut tersapu
bersama air dan lumpur.
Setidaknya terdapat lima
angkatan alumni termuda kala itu, yakni alumni 2005 hingga 2009 yang datang ke
Reuni Akbar. Acara yang berlangsung pada 5 Syawal 1430 atau 24 September 2009
di lantai tiga gedung MA Miftahul Huda selanjutnya dikenang sebagai hari lahir
IKAMIFDA. Ahmad Arifin dari alumni 2007 terpilih mengungguli rivalnya menjadi
ketua IKAMIFDA pertama dalam acara itu pula.
Gelombang gamang
Hampir tidak ada kegiatan yang
diselenggarakan maupun pencapaian lain bagi organisasi usai pembentukan
IKAMIFDA pada 2009. Kosongnya kegiatan membuat IKAMIFDA yang sempat terdengar
cuitannya kembali tenggelam di antara keramaian media sosial. Tiga tahun usai
pemilihan ketua pertama, baru diadakan kegiatan kembali, reuni. Reuni Akbar
IKAMIFDA ke-2 yang diadakan pada Juli 2012 mengundang lebih banyak alumni, terdiri
dari 10 angkatan dari lulusan 2001 sampai 2011.
Penyelenggaraan Reuni Akbar
IKAMIFDA ke-2 menegaskan bahwa IKAMIFDA masih hidup, walau redup. Namun pelaksanaan
acara ini mampu menggerakkan anggotanya untuk menumbuhkan IKAMIFDA yang layu. Hingga
akhirnya pada tahun 2013, terlaksana kegiatan Tryout SBMPTN IKAMIFDA (TOSIDA). TOSIDA, kegiatan tes percobaan
masuk perguruan tinggi dengan sasaran kelas XII sebagai pesertanya. Penyelenggaraan
acara TOSIDA mulai memperlihatkan sayap IKAMIFDA ke luar anggota.
Meski suara dan sayap IKAMIFDA
dikenal, dalam organisasi sendiri sering tampak riak keributan. Tidak sedikit
anggota yang mempertanyakan peran pengurus IKAMIFDA, kendati selama empat tahun
hanya dua acara yang menghiasi. Apalagi usai TOSIDA pertama, desakan
penggantian ketua sekaligus pengurus makin kerap terjadi. Beberapa perundingan
pun dilakukan untuk mendiskusikan masalah kepengurusan.
Saat penggantian pengurus
akhirnya terjadi juga. Setelah mengisi acara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah
(MPLS) di MA Miftahul Huda, beberapa alumni mengadakan pemilihan ketua IKAMIFDA.
Pemilihan yang diadakan pada Juli 2015 di lantai dua Masjid Al-Amin Tayu itu dihadiri
sepasang perwakilan dari angkatan terbaru 2015 sampai 2008 saja. Syamsudin, alumnus
2010 dipilih sebagai Ketua IKAMIFDA Kedua mengungguli M. Maulin Naufa dari
alumnus 2008 dan M. Najmul Umam alumnus 2009. Lantaran belum adanya peraturan
yang gamblang dalam organisasi ini, pemilihan ketua tersebut dianggap sah.
Setelah struktur organisasi
pengurus sedikit lebih jelas, perkara keanggotaan mulai dipertanyakan dan butuh
dibahas. Apakah anggota IKAMIFDA adalah mereka yang pernah lulus dari tiap
tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanaiyah (MTs), dan MA? Apakah
mereka yang sempat mendaftar tapi tidak melanjutkan belajar di MMH masuk
anggota IKAMIFDA? Pertanyaan serupa itu terus berkelindan dalam kepala hingga
diperoleh jawaban yang memuaskan angan dan rasa.
Memang, hingga berusia enam
tahun setelah kelahirannya, kumpulan ini belum memiliki dasar aturan.
Pertanyaan-pertanyaan mendasar organisasi pun dijawab sekadarnya, setahunya.
Bahkan kepanjangan nama organisasi juga sempat menjadi perdebatan tegal belum terdokumentasi
pasti dan masuk dalam aturan dasar organisasi.
Hingga kemudian, pada 8 Juli
2018 dirumuskanlah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) IKAMIFDA. Perumusan
AD/ART IKAMIFDA berlangsung di rumah alumnus 2009, M. Najmul Umam di Desa
Bulungan. Dalam aturan tersebut juga disusun ulang kepanjangan nama Organisasi
IKAMIFDA.
IKAMIFDA di awal pendirianya
memiliki kepanjangan Ikatan Alumni Miftahul Huda. Seiring perjalanannya,
IKAMIFDA mendapatkan pengubahan yang beragam. Lema ‘Keluarga’ pernah menyusup
di antara kata ‘Ikatan’ dan ‘Alumni’ yang seolah meneguhkan kekeluargaan
organisasi. Ada pula yang menambahkan ‘Madrasah’ sebelum frasa ‘Miftahul Huda’.
Perbedaan ini memberi kesan bahwa IKAMIFDA tampak sebagai organisasi yang ‘sepenting
mlaku’ dalam usianya yang tak bisa dianggap hanya dapat berjalan saja.
Dalam AD IKAMIFDA diberlakukan
penghapusan lema ‘Keluarga’ yang sempat muncul dengan alasan pemborosan kata,
sebab telah tercantum ‘Ikatan’ yang memiliki arti serupa. Selain itu,
ditambahkan pula ‘Aliyah’ di antara ‘Madrasah’ dan ‘Miftahul Huda’ untuk
mempertegas siapa anggota dari organisasi tersebut. Dengan demikian,
kepanjangan IKAMIFDA sebagaimana tertuang dalam AD adalah Ikatan Alumni
Madrasah Aliyah Miftahul Huda.
Sementara itu, anggota
IKAMIFDA yang dimaksud dalam AD IKAMIFDA ialah mereka yang telah menyelesaikan
masa belajarnya di Madrasah Aliyah (MA) Miftahul Huda Tayu. Poin utamanya
adalah lulusan dari MA, sehingga alumni Madrasah Ibtidaiyah (MI) maupun
Madrasah Tsanawiyah (MTs) Miftahul Huda yang tidak melanjutkan ke MA hingga
lulus tidak masuk sebagai anggota IKAMIFDA.
Masalah selalu ada. Meski
telah tersusun, AD/ART yang disahkan pada tahun 2018 tetap memunculkan banyak
tanya, dan perubahan akan selalu menjadi keniscayaan.
Kerjaan IKAMIFDA
IKAMIFDA memiliki program
rutin tiap tahun yang cukup membuat IKAMIFDA terlihat mentereng, TOSIDA namanya.
Selain TOSIDA, Program Kantong Peduli (KP) juga menjadi unggulan bagi mereka. KP
merupakan program beasiswa bagi murid berprestasi MA Miftahul Huda yang kurang
mampu dalam bidang ekonomi. Dana beasiswa KP dikumpulkan dari alumni yang
menjadi donatur tetap maupun sewaktu.
![]() |
| Corp Brass Reunion (CBR) of Em Em Ha setelah mengikuti Jalan Sehat dalam rangka Haul Mbah Sholeh Amin Tayu Ke-80 (Dokumentasi IKAMIFDA) |
Ada pula program yang tampak
kecil seperti Tahtiman Alquran, Takziyah, Buka Bersama juga berjalan kala
diperlukan. Program lainnya yang lumayan ramai ialah ketika menjadi tim hore,
di pawai misalnya.
Tujuan awal pendirian
organisasi IKAMIFDA untuk mengumpulkan alumin memang telah tercapai sejak reuni
akbar pertama diadakan. Sementara tujuan setelah dikumpulkan terlewat
dipikirkan. Apa yang mau dilakukan setelah berkumpul? Tak cukup ‘hahaha’ saja
kan?


dibuat film dokumenter keren niki bu, kontenn😂
BalasHapus