![]() |
| Dokumentasi Pribadi |
Agustus kali ini terasa begitu
ramai, terutama bagi muslim di daerah Jawa. Selain terdapat dua perayaan besar,
Lebaran Haji dan Ulang Tahun RI, ada perayaan lain yang mampu meningkatkan tekanan
dan kolesterol darah dalam tubuh. Tumpukan undangan nikah berdesakan merayu dompet
yang belum sempat penuh.
Yap, sebulan ini banyak orang
menyelenggarakan pesta pernikahan. Saking jamaknya, dalam sehari bisa mencapai belasan
acara. Bahkan pada hari tertentu yang dinilai baik, akad nikah sekecamatan
berlangsung tak kurang 27 kali. Iya, sebanyak 27 ucap akad nikah sah di Kecamatan
Tayu, Kabupaten Pati, dalam sehari. Itu terjadi tanggal 18 Agustus lalu saat jalanan tampak rasa
lebaran.
Yang bingung siapa? Petugas
KUA, mengatur jadwal agar tak tumpang tindih sekaligus sesuai hasil
hitung-hitungan sesepuh penyelenggara acara. Yang ketar-ketir siapa? Yang
diundang, meraba-raba isi dompet apakah bisa pindah ke amplop dan tetap cukup untuk
ngopi di warkop. Yang galau siapa? Para jomlo, terlebih undangan dari mantan
nangkring pula dengan foto sampul mesra. Heuheuuu.
Dalam sebulan, bejibun
undangan datang dengan waktu pelaksanaan berdekatan. Bukan bermaksud tak
menghargai ajakan datang, tapi adat membawa amplop beserta isinya, hadiah, atau
sumbangan lain tak bisa disangkal perlu perhatian. Gaji bulan lalu telah
terbabat, bisa jadi hutang rela digapai demi menjunjung martabat. Belum lagi
busana yang dipakai, masak ya itu lagi, itu lagi tiap acara. Malu kan kalau
ketemu tamu yang sama dalam acara berbeda?
Sederhananya fenomena ini
sungguh menyesakkan, tak berperikegengsian.
Jadi kenapa Agustus ini ramai
orang nikah sih? Apakah kiamat benar-benar datang sebentar lagi kok orang-orang
serasa seperti diburu waktu? Layaknya jodoh dan mati, urusan kapan kiamat, saya
tak pernah bisa mengintip sebelum waktunya tiba. Tapi atas dasar kepo dan
kesal sebab selalu ditanya kapan nyusul menikah saat menghadiri nikahan, info
wabah menikah pun diselidiki juga.
Umat muslim memiliki dua hari
raya yang selalu diperingati dengan meriah oleh pemeluknya, Idulfitri dan
Iduladha. Idulfitri atau hari Lebaran jatuh tiap tanggal 1 Syawal, sementara
Iduladha dirayakan setiap tanggal 10 Zulhijjah yang tahun ini bertepatan
tanggal 11 Agustus. Ternyata selain dihapal sebagai bulan hari raya, Syawal dan
Zulhijah dikenal juga untuk penyelenggaraan pernikahan, ehm musim kawin
begitulah.
Syawal diminati warga muslim
buat menyelenggarakan pernikahan dalam rangka meneladani Nabi Muhammad. Beliau menikah
dengan Aisyah di bulan Syawal. Kendati demikian, bukan berarti yang menikah di
luar bulan Syawal menjadi durhaka pada Nabi Muhammad. Ya nggak segitunya kali.
Sebagaimana Syawal, bulan
Zulhijah juga banyak digemari orang untuk mengadakan pernikahan. Tapi mengapa
Zulhijah sebagai bulan terakhir tahun Hijriah kali ini lebih semarak dari
biasanya?
Menurut kalender tahun Jawa Islam yang penanggalannya serupa tahun Hijriah, tahun 1953 Jawa Islam atau tahun 1441
Hijriah merupakan tahun duda. Berdasarkan mitos, orang yang menikah pada tahun
duda, pernikahannya menjadi tidak awet, tidak berumur panjang, pisah, menduda.
Jika ditelusuri, istilah tahun
duda sebenarnya disematkan pada tahun ketika tanggal 1 Suro sebagai awal tahun
tersebut tak memiliki pasangan pasaran dalam satu siklus. Ini yang perlu dicamkan:
tak memiliki pasangan pasaran. Pasangan pasaran ya, bukan pasangan orang. Nah,
sepanjang satu siklus yang berlangsung selama sewindu, tahun duda terjadi dua
kali yaitu pada tahun Jé dan Wawu.
Layaknya shio dalam kalender
Imlek—Tikus, Kerbau, Macan, dst.—kalender Jawa Islam juga mempunyai lambang tahun
dalam siklus sewindu. Mereka adalah Alip, Ehé, Jimawal, Jé, Dal, Bé, Wawu, dan Jimakir. Apabila diperhatikan,
nama ini serupa huruf hijaiah dengan pengucapan khas jawa: ا, ه, ج, ز, د, ب, و, ج.
Tahun 1953 Jawa Islam yang
dimulai pada 1 September 2019 dan diperkirakan berakhir pada 19 Agustus 2020
merupakan tahun Wawu. Oleh karena itulah di akhir tahun 1952 ini, banyak orang
tampak berlomba-lomba segera menikah agar tak kena kutuk tahun duda.
Yaelah, zaman now begini
masih percaya sama mitos-mitos begituan?
Woo jangan salah. Kepercayaan
ini telah diakui banyak kepala. Buktinya ya dari sebaran undangan nikah yang astaghfirullah di bulan ini. Kalau
tentang bukti tulah bagi mereka yang menikah di tahun duda, saya memang belum
menemukannya. Masalahnya saya baru sadar keberadaan tahun duda saat sirine dari
sekitar untuk menikah mulai sering berbunyi.
Untuk pengumpulan data terkait
tahun duda berikut tulahnya, barangkali pernikahan yang terjadi tahun depan
bisa dijadikan objek penelitian. Atau biar tidak terlalu lama menunggu,
pernikahan pada tahun duda sebelum-sebelumnya bisa digali ulang. Siapa tahu
masuk jurnal ilmiah internasional.
Yakin saja kalau tahun duda
tidak berbahaya. “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku”, kata Tuhan kan
begitu.
Sebaliknya, kutuk tahun duda yang
tak bisa dianggap remeh justru dipercaya mereka yang jumlahnya tak sedikit.
Berarti, tinggal Tuhan yang menentukan mau mengabulkan keyakinan siapa.
Tentu saja tidak salah tidak
mempercayai hal demikian. Namun sebab banyak yang percaya terhadap perkara
tahun duda, mencemooh lantas sok menentangnya dengan menikah pada tahun duda
bukan pilihan etis. Apalagi jika berada lingkungan yang getol dengan
kepercayaan tersebut. Terlebih lagi yang tidak percaya hal itu seorang diri,
tidak terlalu dekat dengan Tuhan lagi, ups. Tak apa sih, biar jadi sampel penelitian.
Pun demikian, tidak masalah
memiliki kepercayaan terhadap tahun duda. Asal tidak tertalah menikah sebelum
siap masanya hingga asal-asal menentukan jodoh. Bisa jadi ketidakharmonisan
rumah tangga terjadi justru sebab pernikahan yang tergopoh.
Lalu bila Anda termasuk orang
yang memiliki kepercayaan terhadap tahun duda dan tahun ini belum menikah meski
umur cocok sudah, ada baiknya menunggu setahun lagi untuk menikah. Jodoh mana
yang tepat dapat ditentukan dalam setahun ini. Jika setahun masih belum cukup waktu
untuk menemukan belahan jiwa, santai saja, tak perlu bermurung durja.
Ketika tahun 1953 berakhir, akan
ada empat tahun tanpa label tahun duda. Semoga saja empat tahun sudah lebih
dari cukup untuk mencari sekaligus melangsungkan akad nikah yang selalu
membayang dalam angan. Ada baiknya lagi, pernikahan dilangsungkan tidak mepet
dengan awal tahun duda, selain agar tidak pening kepala juga biar isi amplop dari
undangan tak ala kadarnya.
Mari kita tutup akhir tahun
ini dengan bahagia dan awali tahun duda dengan lapang dada. Semoga jodoh tampak
segera.

Komentar
Posting Komentar