Suatu sore,
aku ingin mengajukan pertanyaan basa-basi ke kawan karena suasana hening yang
membuatku tak nyaman. Melihat dia sibuk menggosok bengkahan batu-batu akik yang
aku anggap ‘keramat’, aku mendapatkan pertanyaan yang benar-benar basa-basi.
“Apa sih, yang sudah kau peroleh selama sebulan memelihara batu-batu itu, meluangkan diri untuk mengasuhnya setiap hari?” tanyaku akhirnya jelas sekali terdengar dengan nada agak meremehkan.
“Apa sih, yang sudah kau peroleh selama sebulan memelihara batu-batu itu, meluangkan diri untuk mengasuhnya setiap hari?” tanyaku akhirnya jelas sekali terdengar dengan nada agak meremehkan.
Dia tak menjawab, tak pula mengalihkan arah pandangan. Haduh, pertanyaan
basa-basiku terlalu mengultimatumnya, seruku dalam hati. Dia masih saja belum angkat bicara hingga beberapa detik kemudian,
sibuk dengan urusan gosok-menggosok. senyap kembali menggelayuti ruang.
“Kepuasan,
bahagia,” ujarnya santai memecah kebisuan.
Aha, dia
akhirnya membuka mulut. Tapi aku tak puas dengan jawaban itu, itu jawaban yang
lumrah, pikirku. Aku kira ia akan menjawab dengan memperoleh uang, dapat
keberuntungan yang tak dinyana-nyana, atau perihal fisik dan materi lainnya.
Mengerti
kegelisahan pikiranku, kawanku menambahkan, “Bukankah itu yang menjadi inti
dari seabrek kegiatan manusia? Untuk mendapatkan kebahagian,” tuturnya, masih
santai seolah mengejekku. Mengejek balik olokan terselubung dariku.
Namun aku malah
tersentak kaget dengan apa yang diucapkannya barusan. Aku jadi teringat dengan
apa yang ditanyakan seorang bapak di gerbong kereta mengetahui ada wanita
memanggul tas gunung yang lumayan besar.
“Apa yang ia
cari di atas sana? Berjalan naik-turun berkilo-kilo meter jauhnya sambil
berlelah-lelah menggendong tas besar?” tanya bapak di depanku sambil memandang
wanita itu berlalu.
Aku pun
menjawab tanpa beban, “Ada suatu kepuasan yang hanya dirasa ketika telah sampai
di puncak,” ungkapku sok filosofis, sambil mengingat diri sedang menikmati
lahirnya mentari di puncak gunung.
Jawaban dan
pertanyaan orang lain membuatku sadar bahwa hidup hanya memiliki satu tujuan,
kebahagiaan. Tinggal dipilih, mau bahagia kapan, dimana, dan bagaimana caranya.
Semua kegiatan manusia akan merujuk pada satu titik, kebahagiaan.
Maka, tak
perlu lagi diri mencibir orang lain melakukan suatu tindakan yang tak dimengerti, menghabiskan waktu dengan melakukan sesuatu yang dianggap tiada
berguna. Mungkin kegiatan itu menjadi hobinya yang akan membuatnya bahagia. Dia
berhak menikmatinya.
Ciputat, 1
Desember 2014

Komentar
Posting Komentar