Langsung ke konten utama

Kekecilan

Tergeletak pasrah, tertidur lemah ia di sampingmu. Kau, yang sedang asyik dengan ha-pe sedikit terkejut mendapati dirinya bersender padamu. Sedetik, dua detik, tiga detik, kau tetap bergeming tidak peduli, lebih tepatnya pura-pura acuh tak acuh.

Di beberapa detik kemudian, kau mulai meraba dan mengangkatnya dari sandaran. Kau menempelkannya pada pergelangan tanganmu, melepasnya lalu kembali membiarkannya bersandar padamu.

Sesorang di sampingmu, yang tiba-tiba terjaga dari tidur bertanya, “Dia milikmu?” katanya polos. Kau pun menjawab tak kalah polos, “Oh bukan,” ungkapmu jujur

Setelah terdiam dan sepertinya berpikir cukup lama, kau kemudian berdiri, membawanya masuk ke dalam ruangan. “Maaf, ada yang kehilangan?” tanyamu pada dua orang yang sedang bercengkerama di sisi ruangan. “Ah, oh, ya. Jam tangan putih rantai,” seru salah satunya setelah meraba pergelangan tangan kirinya tanpa adanya ganjalan jam tangan.

“Sepertinya ini milikmu,” ujarmu sambil mengembalikan barang yang kau tenteng sejak tadi pada gadis yang berseru setelah memastikan kebenaran cirinya.

Mendapati apa yang kau lakukan, aku menaikkan mata, bertanya kenapa. Kau yang mengerti maksud gerakan mataku menjawab sambil berlalu, “Semahal apapun jam tangan itu, kalau aku bawa pun tiada guna di pergelangan tangan. Hanya akan menambah koleksi jam tangan tak terpakai di laci lemari,” jelasmu. Tapi aku masih belum paham.

“Kekecilan,” tambahmu menyimpulkan alasan. Aku ber-oh panjang. Aku menatapmu pergi penuh arti. Bukan karena kagum dengan apa yang kau perbuat, tapi karena kasihan. Betapa menyedihkannya dirimu.


Komentar

Populer

Satu Dekade IKAMIFDA: Cukup Bisa Berjalan Saja?

Manusia merupakan satu dari sekian spesies sosial di bumi. Mereka hidup dalam kelompok tertentu dan saling membutuhkan. Barangkali seseorang bisa bertahan hidup seorang diri, di hutan misalnya, tapi ia lantas mati tanpa peninggalan, apalagi keturunan. Tiada kenangan, kesepian. Suram. Tanpa generasi, lantaran manusia bukan makhluk yang bisa bereproduksi sendiri layaknya pohon pisang. Bahkan bila takdir menunjuknya dengan status hermafrodit, ia akan tetap menjomlo. Kecuali jika ia diberi kemampuan berpartenogenesis, sehingga dapat melakukan pembuahan tanpa pasangan. Hmmm. Sudalaa kita membahas kelompok, bukan pasangan ~ Padahal hanya secuil pembahasan tentang pasangan. Tapi baiklah, mari kembali pada kelompok. Kelompok manusia dibentuk atas kesamaan sejarah hingga kesamaan tujuan, gabungan keduanya, atau kesamaan lain yang akan menjadi banyak jika semua pemetaannya disebutkan. Kelompok yang dibentuk sejatinya diharapkan dapat menguatkan jati diri mereka sebagai manusia, mesk...

Fenomena Jelang Tahun Duda yang Menyekik Kegengsian

Dokumentasi Pribadi Agustus kali ini terasa begitu ramai, terutama bagi muslim di daerah Jawa. Selain terdapat dua perayaan besar, Lebaran Haji dan Ulang Tahun RI, ada perayaan lain yang mampu meningkatkan tekanan dan kolesterol darah dalam tubuh. Tumpukan undangan nikah berdesakan merayu dompet yang belum sempat penuh. Yap, sebulan ini banyak orang menyelenggarakan pesta pernikahan. Saking jamaknya, dalam sehari bisa mencapai belasan acara. Bahkan pada hari tertentu yang dinilai baik, akad nikah sekecamatan berlangsung tak kurang 27 kali. Iya, sebanyak 27 ucap akad nikah sah di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, dalam sehari. Itu terjadi tanggal 18 Agustus lalu saat jalanan tampak rasa lebaran. Yang bingung siapa? Petugas KUA, mengatur jadwal agar tak tumpang tindih sekaligus sesuai hasil hitung-hitungan sesepuh penyelenggara acara. Yang ketar-ketir siapa? Yang diundang, meraba-raba isi dompet apakah bisa pindah ke amplop dan tetap cukup untuk ngopi di warkop. Yang gala...

Surat Kartini untuk Bangsanya

Dokumentasi pribadi Saya dikenalkan dengan R.A. Kartini (Raden Adjeng sebelum menikah, Raden Ayu usai menikah) lewat mata pelajaran sejarah sekadar sebagai pahlawan perempuan Indonesia. Kartini perempuan asli Jepara yang lahir pada bulan yang sama dengan bulan lahir saya, April. Hanya beda tipis tanggal dan tentu saja beda jauh tahun lahir. Selain dari tempat dan tanggal lahir, sosok ibu yang fotonya dipasang di dinding kelas Ibtidaiyah saya dulu—sehingga gambar dirinya cukup melekat dalam pikiran—selalu berpakaian kebaya, rambut tersanggul rapi, khas perempuan ningrat Jawa. Kartini, satu-satunya puan yang namanya diabadikan menjadi judul lagu wajib nasional gubahan penyair yang juga mencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia, Wage Rudolf Supratman. Ibu Kita Kartini , judul lagunya. Penghargaan semacam ini tentu tak sembarang diberikan. Menggunakan nada sederhana membuat lagu tersebut akrab dinyanyikan anak-anak, meski tak seluruh lirik tergelorakan hingga terdenga...