Tergeletak pasrah, tertidur lemah ia di
sampingmu. Kau, yang sedang asyik dengan ha-pe sedikit terkejut mendapati
dirinya bersender padamu. Sedetik, dua detik, tiga detik, kau tetap bergeming
tidak peduli, lebih tepatnya pura-pura acuh tak acuh.
Di beberapa detik kemudian, kau mulai
meraba dan mengangkatnya dari sandaran. Kau menempelkannya pada pergelangan
tanganmu, melepasnya lalu kembali membiarkannya bersandar padamu.
Sesorang di sampingmu, yang tiba-tiba
terjaga dari tidur bertanya, “Dia milikmu?” katanya polos. Kau pun menjawab tak
kalah polos, “Oh bukan,” ungkapmu jujur
Setelah terdiam dan sepertinya berpikir
cukup lama, kau kemudian berdiri, membawanya masuk ke dalam ruangan. “Maaf, ada
yang kehilangan?” tanyamu pada dua orang yang sedang bercengkerama di sisi
ruangan. “Ah, oh, ya. Jam tangan putih rantai,” seru salah satunya setelah
meraba pergelangan tangan kirinya tanpa adanya ganjalan jam tangan.
“Sepertinya ini milikmu,” ujarmu sambil
mengembalikan barang yang kau tenteng sejak tadi pada gadis yang berseru
setelah memastikan kebenaran cirinya.
Mendapati apa yang kau lakukan, aku
menaikkan mata, bertanya kenapa. Kau yang mengerti maksud gerakan mataku
menjawab sambil berlalu, “Semahal apapun jam tangan itu, kalau aku bawa pun
tiada guna di pergelangan tangan. Hanya akan menambah koleksi jam tangan tak
terpakai di laci lemari,” jelasmu. Tapi aku masih belum paham.
“Kekecilan,” tambahmu menyimpulkan
alasan. Aku ber-oh panjang. Aku menatapmu pergi penuh arti. Bukan karena kagum
dengan apa yang kau perbuat, tapi karena kasihan. Betapa menyedihkannya dirimu.
Komentar
Posting Komentar