Hidup terkadang berjalan tanpa bisa kita kendalikan, melenceng jauh dari
harapan, hingga memunculkan sesal yang berkelanjutan. Begitu pula cinta, meski dengan
uraian yang tak serupa. Ketika hidup hanya ada Pengendali hidup dan kita
sendiri si pelaku hidup, dalam cinta berbeda. Di dalam cinta ada Penguasa
cinta, pencinta, dan yang dicinta. Meskipun subjek ketiga tidak menjadi pelaku,
ia turut berkontribusi terhadap ada dan aksi cinta.
Kau tahu, saat hidup dan cinta tidak sejalan dengan mimpi harap, aku
selalu termenung. Mencoba mengurai setiap kejadian-kejadian yang ada. Teori
menyatakan bahwa hidup melangkah atas dasar hukum sebab akibat ataupun hukum
inersia menurut orang fisika.
Aku bukanlah pengikut sejati Newton yang mengemukakan hukum tersebut
tapi tak jarang aku menghubungkan satu kejadian saat ini menjadi akibat dari
kelakuanku masa silam. Tapi aku sering terlupa hukum tersebut tidak hanya
berlaku kala ini ataupun kemarin, tapi juga esok hari. Aku lalai, kejadian yang
tak aku harapkan sekarang bisa menjadi sebab kejadian di masa depan yang begitu
aku impikan. Iya, bisa jadi.
– o0o –
Tuut... tuut...
tut. Suara tanda panggilan
terputus dari hp yang sedang kupegang. Aku mendesah perlahan. Panggilan itu akhirnya dirampungkan sepihak setelah kita saling terdiam, beberapa saat. Bukan aku yang mengakhiri, tapi orang yang berada di seberang hp nun jauh di ujung pulau
sana.
Aku menghela napas, berusaha menahan gejolak hati.
Kembali, aku menghirup dalam oksigen dari ruang kamar agar memenuhi
kantong-kantong alveolus paru, menggantikan karbondioksida yang membuatku
merasa sempit. Agar sesak tak lagi terasa. Tapi sayang, aku tak sanggup menahan nyeri hati. Air mata telah
mengalir membasahi pipi.
Ini bukan kali pertama
aku berusaha
tegar. Hubunganku dengan Hadi terasa makin menghimpit, membuatku terjepit, menekan rasa dalam hatiku. Sudah dua tahun aku menjalani
hubungan dengan Hadi. Setengah tahun sebelum kelulusan dari SMA dan berlanjut
masa kuliah yang telah berjalan tiga semester beberapa bulan.
Hadi kuliah di kota
ujung pulau Jawa, sedang diriku
sendiri di ujung lain pulau yang sama. Aku dapat bertemu Hadi ketika liburan semester
tiba. Itu pun tak lama, karena jatah
liburanku
hanya dua minggu sedang Hadi sering sibuk dengan aktivitasnya.
Aku merasa, Hadi jauh berbeda antara sebelum dan semasa kuliah. Di awal
menjalin hubungan denganku, Hadi terasa begitu dekat.
Dengan segala upayanya, ia tundukkan hatiku untuk masuk ke dalam perangkapnya.
Ketika aku sudah terperangkap, aku tak memiliki daya lagi, benar-benar
terperangkap. Aku terlena olehnya.
Saat aku tak mampu berkutik tanpa Hadi, ia mulai melepaskanku. Seakan
meninggalkanku di taman yang diciptanya di tengah hutan lebat. Aku tersesat.
Beberapa teman bilang, hubunganku dengan Hadi tampak
baik-baik saja, bahkan awet, tersimpul dari lamanya diriku menyandang status
‘berpacaran’ dengan Hadi. Sayangnya, aku tidak merasakan nyaman dari anggapan teman-teman.
Aku malah merasa pujian kawan
sebagai sindiran untukku.
– o0o –
Klik, bunyi telepon diputus. Aku mendesah
pelan. Aku baru saja mengakhiri panggilan Dewi dari jauh sana. Tak lama,
panggilan itu hanya berdurasi tidak lebih dari dua menit. Cukup singkat, bahkan
sangat singkat untuk mengobrol dengan ‘kekasih tak resmi’ yang saling berjauhan
yang hampir 6 bulan tak bertemu.
Bukan aku tak
senang jika Dewi meneleponku, bahkan aku sangat bahagia mendengar suaranya yang
manis. Akan tetapi, janji terhadap Dewi
dan hatiku sendiri harus aku penuhi, janji untuk menjaganya dan menjaga diriku. Janji yang mungkin
telah diabaikan Dewi.
Sebenarnya dulu, aku tak begitu menghiraukan ucap janji itu. Bahkan aku ungkapkan janji itu hanya agar diriku diterima oleh Dewi. Lepas kami dekat, aku abai, Dewi pun lalai. Namun entah karena apa, aku merasakan kegelisahan atas pengingkaranku ini. Aku bukannya menjaga, tapi malah membuatnya retak.
Sebenarnya dulu, aku tak begitu menghiraukan ucap janji itu. Bahkan aku ungkapkan janji itu hanya agar diriku diterima oleh Dewi. Lepas kami dekat, aku abai, Dewi pun lalai. Namun entah karena apa, aku merasakan kegelisahan atas pengingkaranku ini. Aku bukannya menjaga, tapi malah membuatnya retak.
Tentu, ada sebongkah rasa yang meronta atas kesadaran baru yang aku
temui. Tapi aku harus menekan segala rasa yang menggelisahkan hati.
Sekali lagi, bukan
karena aku tak kangen pada Dewi. Kangenku padanya bahkan tak sanggup lagi aku
rasa, karena terlalu tingginya rasa itu. Bukankah ketika rasa telah mencapai
puncaknya ditandai dengan kebal rasa, tak lagi merasakan apa-apa? Omong kosong,
Kawan. Mungkin asumsi itu tak berlaku di sini. Sebenarnya rasa itu tetap ada,
tetap menggelayuti hati yang selalu berusaha tampak rapi.
– o0o –
Hadi memaku sunyi di sepi pantai pagi. Camar yang sudah bangun semenjak
fajar terbang berputar-putar di atas air laut yang berdebur menghantam batu karang,
mencari rezeki pagi. Hadi mengamati matahari yang sedang merangkak naik dari
genangan air laut. Saat bulatannya benar-benar terbebas dari rangkulan garis
laut, Hadi berdiri, menjemput kesejatian diri.
![]() |
| Dokumentasi pribadi |
Di sisi lain pulau, Dewi menatap sendu kabut putih di ruang lembah yang terbentang di hadapannya. Semilir sejuk angin pagi tak mengusiknya untuk tetap duduk terpaku menatap pagi. Dewi mulai memikir-pikirkan kalimat terakhir Hadi sebelum teleponnya diputus. Tak beberapa lama, ratu pagi menyapanya dengan selarik kehangatan.
“Dewi, aku mohon, tunggulah. Kita akan bertemu lagi saat kita sudah
benar-benar siap.” Kata Hadi saat itu dengan suara yang mungkin dibuatnya
paling lembut namun begitu kentara getarannya.
Dewi menarik napas panjang. Saat mentari tampak bulat benar, ia berdiri.
Kembali ia mengisi parunya dengan segar udara pagi sebanyak ia mampu. Dewi
membalik badan, menyusun ulang hati.

Komentar
Posting Komentar