Langsung ke konten utama

Palsu

Kau jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama, entah berapa tahun yang lalu. Rea, namanya—nama yang kau berikan padanya—sebuah viola. Ya, agaknya memang terdengar tak wajar. Kau jatuh cinta pada viola, sebuah alat musik gesek yang berasal dari dunia Barat. Bukan jatuh cinta pada manusianya, tapi instrumen musik.
Namun, bukankah setiap orang memiliki cintanya masing-masing? Kau pun begitu, kau berhak mencintai Rea, sebuah viola.
Kini usahamu untuk mendekatinya telah berhasil. Bersama dengan seseorang yang kau pandang sebagai dokter alat musik gesek, kau membeli viola dari sebuah toko musik di mall kota. Mahal memang, maka itu kau anggap sebagai salah satu bentuk pengorbanannmu untuknya. Uang yang terkumpul dari hasil kerja selama setahun rela kau keluarkan, untuk membuatnya menjadi dekat padamu. Agar kau dapat bercumbu mesra dengan Rea.
Dokumentasi pribadi
Rea sudah berada di tanganmu. Kau amati detail tentangnya, lembut halus kulitnya, lekak-lekuk tubuhnya, getaran suaranya sampai kau mengerti benar akan dirinya.

Kau begitu dekat dengan Rea. Hampir tiap hari kau relakan waktu bersama untuknya, di antara padat aktivitas harianmu. Setengah hingga dua jam, waktu yang lumayan banyak untuk menemuinya, menurutmu. Kau bahkan menyesal jika dalam sehari tak bertemu, bermesraan dengannya. Begitu tuturmu.
Sejumlah orang yang tak begitu kenal baik dengan Rea, selalu kagum padamu. Betapa besar cintamu padanya. Kau disanjung, dipuja-puja. Kau nikmati pujian itu, melayangkanmu entah kemana. Kebersamaan tanpa syarat, komentar mereka. Namanya juga cinta, ujarmu mencoba merendah.
Empat bulan, lebih barangkali, kau sudah akrab dengannya. Kau juga sering bepergian besamanya. Tanpa malu, tanpa ragu. Katamu, kau sudah lihai membelai lehernya dengan rambut ekor kuda. Kau pun bangga akan hal itu. Cintamu pada Rea kian berbunga.

Tiba di sore dimana kau terburu-buru karenanya. Mengejar waktu untuk menemui dokternya, dokter alat musik gesek. Jam dua, dokter akan beranjak pergi dari tempat yang telah ditentukannya. Kau kayuh sepeda secepat yang kau mampu, berusaha sampai sebelum dokter meninggalkan tempat kerja, pindah ke klinik lain, kata dokter.

Tayu, 30 Januari 2015
----Dimuat juga dalam Tabloid Institut Edisi XXXVII dengan nama viola yang berbeda dan sayangnya nama penulis yang salah.

Komentar

Populer

Satu Dekade IKAMIFDA: Cukup Bisa Berjalan Saja?

Manusia merupakan satu dari sekian spesies sosial di bumi. Mereka hidup dalam kelompok tertentu dan saling membutuhkan. Barangkali seseorang bisa bertahan hidup seorang diri, di hutan misalnya, tapi ia lantas mati tanpa peninggalan, apalagi keturunan. Tiada kenangan, kesepian. Suram. Tanpa generasi, lantaran manusia bukan makhluk yang bisa bereproduksi sendiri layaknya pohon pisang. Bahkan bila takdir menunjuknya dengan status hermafrodit, ia akan tetap menjomlo. Kecuali jika ia diberi kemampuan berpartenogenesis, sehingga dapat melakukan pembuahan tanpa pasangan. Hmmm. Sudalaa kita membahas kelompok, bukan pasangan ~ Padahal hanya secuil pembahasan tentang pasangan. Tapi baiklah, mari kembali pada kelompok. Kelompok manusia dibentuk atas kesamaan sejarah hingga kesamaan tujuan, gabungan keduanya, atau kesamaan lain yang akan menjadi banyak jika semua pemetaannya disebutkan. Kelompok yang dibentuk sejatinya diharapkan dapat menguatkan jati diri mereka sebagai manusia, mesk...

Fenomena Jelang Tahun Duda yang Menyekik Kegengsian

Dokumentasi Pribadi Agustus kali ini terasa begitu ramai, terutama bagi muslim di daerah Jawa. Selain terdapat dua perayaan besar, Lebaran Haji dan Ulang Tahun RI, ada perayaan lain yang mampu meningkatkan tekanan dan kolesterol darah dalam tubuh. Tumpukan undangan nikah berdesakan merayu dompet yang belum sempat penuh. Yap, sebulan ini banyak orang menyelenggarakan pesta pernikahan. Saking jamaknya, dalam sehari bisa mencapai belasan acara. Bahkan pada hari tertentu yang dinilai baik, akad nikah sekecamatan berlangsung tak kurang 27 kali. Iya, sebanyak 27 ucap akad nikah sah di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, dalam sehari. Itu terjadi tanggal 18 Agustus lalu saat jalanan tampak rasa lebaran. Yang bingung siapa? Petugas KUA, mengatur jadwal agar tak tumpang tindih sekaligus sesuai hasil hitung-hitungan sesepuh penyelenggara acara. Yang ketar-ketir siapa? Yang diundang, meraba-raba isi dompet apakah bisa pindah ke amplop dan tetap cukup untuk ngopi di warkop. Yang gala...

Surat Kartini untuk Bangsanya

Dokumentasi pribadi Saya dikenalkan dengan R.A. Kartini (Raden Adjeng sebelum menikah, Raden Ayu usai menikah) lewat mata pelajaran sejarah sekadar sebagai pahlawan perempuan Indonesia. Kartini perempuan asli Jepara yang lahir pada bulan yang sama dengan bulan lahir saya, April. Hanya beda tipis tanggal dan tentu saja beda jauh tahun lahir. Selain dari tempat dan tanggal lahir, sosok ibu yang fotonya dipasang di dinding kelas Ibtidaiyah saya dulu—sehingga gambar dirinya cukup melekat dalam pikiran—selalu berpakaian kebaya, rambut tersanggul rapi, khas perempuan ningrat Jawa. Kartini, satu-satunya puan yang namanya diabadikan menjadi judul lagu wajib nasional gubahan penyair yang juga mencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia, Wage Rudolf Supratman. Ibu Kita Kartini , judul lagunya. Penghargaan semacam ini tentu tak sembarang diberikan. Menggunakan nada sederhana membuat lagu tersebut akrab dinyanyikan anak-anak, meski tak seluruh lirik tergelorakan hingga terdenga...