Langsung ke konten utama

Penyakit Paru

Sore syahdu di taman perpustakaan, aku lamban menggesek biola. Bukan karena malas, tapi memang sengaja ku lakukan untuk menikmati alunan yang dihasilkan empat senar nada itu. Riuh rendah pengunjung perpustakaan yang keluar masuk gedung itu tak mengusik rasaku.

Tiba-tiba seorang Bapak yang entah sejak kapan berdiri di sampingku, memamerkan tawa renyahnya. Lalu berujar seolah sudah lama kenal, “Kok kalian baru terlihat lagi di sini,” katanya membuka percakapan.

Aku menimpali ucapan Bapak tersebut singkat, tapi berusaha menimbulkan kesan sewajarnya. Setelah Bapak itu tak melanjutkan obrolannya, aku kembali menyanyikan lagu dengan gesekan biola.

“Tau nggak, bermain biola bisa menyebabkan timbulnya penyakit paru lho,” katanya santai setelah mengisap panjang lintingan tembakau di tangannya.

Sedikit terkejut mendengar ucapannya yang tidak biasa, aku menurunkan biola dari pundak untuk pindah ke pangkuanku. “Ah Bapak, jangan bercanda,” sanggahku tidak menerima pernyataannya.

“Coba kau perhatikan temanmu yang sedang mengelap penggesek itu dengan getah kering biji jarak,” ungkapnya nampak senang seolah umpan pancingnya disambar ikan. “Tentu saat kau gesekkan penggesek ke senar, debu-debu tak bersalah akan bertebaran dan dengan mudah terhirup oleh hidungmu yang memang berjarak sangat dekat dari tempat kau menggesekkannya,” tambahnya panjang memberi penjelasan dari asumsinya tadi.

Aku hanya diam, tidak terlalu suka sore itu terganggu, selain tidak ada alasan lain yang mampu aku utarakan untuk mematahkan argumennya.

“Merokok malah lebih berisiko terkena penyakit paru, Pak,” celetuk temanku dari seberang yang masih asik mengelap bow dengan rosin. Sepertinya ia juga tidak terima jika biola menjadi penyebab datangnya penyakit fisik.

Si Bapak malah tertawa lebar. Kemudian ia ambil korek yang ada di dekat tempatku duduk, membakar ujung rokok kedua semenjak ia di sini, lalu berujar dalam, “Ya, merokok memang beresiko lebih ... ” intonasinya menggantung. Aku masih terdiam, menunggu kelanjutan kalimatnya.

Sejenak  ia menghisap rokok di jemarinya dengan penuh penghayatan. “Apalagi kalau menjalani dua-duanya,” akhirnya ia menyelesaikan kalimatnya sambil melirikku, lalu terkekeh memperlihatkan giginya yang mulai keropos entah terkikis oleh apa.

Mendengarnya, bungkusan kotak dalam saku kemejaku terasa makin merapat dekap ke dada.


Ciputat, 16 September 2015


Komentar

Populer

Satu Dekade IKAMIFDA: Cukup Bisa Berjalan Saja?

Manusia merupakan satu dari sekian spesies sosial di bumi. Mereka hidup dalam kelompok tertentu dan saling membutuhkan. Barangkali seseorang bisa bertahan hidup seorang diri, di hutan misalnya, tapi ia lantas mati tanpa peninggalan, apalagi keturunan. Tiada kenangan, kesepian. Suram. Tanpa generasi, lantaran manusia bukan makhluk yang bisa bereproduksi sendiri layaknya pohon pisang. Bahkan bila takdir menunjuknya dengan status hermafrodit, ia akan tetap menjomlo. Kecuali jika ia diberi kemampuan berpartenogenesis, sehingga dapat melakukan pembuahan tanpa pasangan. Hmmm. Sudalaa kita membahas kelompok, bukan pasangan ~ Padahal hanya secuil pembahasan tentang pasangan. Tapi baiklah, mari kembali pada kelompok. Kelompok manusia dibentuk atas kesamaan sejarah hingga kesamaan tujuan, gabungan keduanya, atau kesamaan lain yang akan menjadi banyak jika semua pemetaannya disebutkan. Kelompok yang dibentuk sejatinya diharapkan dapat menguatkan jati diri mereka sebagai manusia, mesk...

Fenomena Jelang Tahun Duda yang Menyekik Kegengsian

Dokumentasi Pribadi Agustus kali ini terasa begitu ramai, terutama bagi muslim di daerah Jawa. Selain terdapat dua perayaan besar, Lebaran Haji dan Ulang Tahun RI, ada perayaan lain yang mampu meningkatkan tekanan dan kolesterol darah dalam tubuh. Tumpukan undangan nikah berdesakan merayu dompet yang belum sempat penuh. Yap, sebulan ini banyak orang menyelenggarakan pesta pernikahan. Saking jamaknya, dalam sehari bisa mencapai belasan acara. Bahkan pada hari tertentu yang dinilai baik, akad nikah sekecamatan berlangsung tak kurang 27 kali. Iya, sebanyak 27 ucap akad nikah sah di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, dalam sehari. Itu terjadi tanggal 18 Agustus lalu saat jalanan tampak rasa lebaran. Yang bingung siapa? Petugas KUA, mengatur jadwal agar tak tumpang tindih sekaligus sesuai hasil hitung-hitungan sesepuh penyelenggara acara. Yang ketar-ketir siapa? Yang diundang, meraba-raba isi dompet apakah bisa pindah ke amplop dan tetap cukup untuk ngopi di warkop. Yang gala...

Surat Kartini untuk Bangsanya

Dokumentasi pribadi Saya dikenalkan dengan R.A. Kartini (Raden Adjeng sebelum menikah, Raden Ayu usai menikah) lewat mata pelajaran sejarah sekadar sebagai pahlawan perempuan Indonesia. Kartini perempuan asli Jepara yang lahir pada bulan yang sama dengan bulan lahir saya, April. Hanya beda tipis tanggal dan tentu saja beda jauh tahun lahir. Selain dari tempat dan tanggal lahir, sosok ibu yang fotonya dipasang di dinding kelas Ibtidaiyah saya dulu—sehingga gambar dirinya cukup melekat dalam pikiran—selalu berpakaian kebaya, rambut tersanggul rapi, khas perempuan ningrat Jawa. Kartini, satu-satunya puan yang namanya diabadikan menjadi judul lagu wajib nasional gubahan penyair yang juga mencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia, Wage Rudolf Supratman. Ibu Kita Kartini , judul lagunya. Penghargaan semacam ini tentu tak sembarang diberikan. Menggunakan nada sederhana membuat lagu tersebut akrab dinyanyikan anak-anak, meski tak seluruh lirik tergelorakan hingga terdenga...