Sore syahdu di taman perpustakaan, aku lamban menggesek biola.
Bukan karena malas, tapi memang sengaja ku lakukan untuk menikmati alunan yang
dihasilkan empat senar nada itu. Riuh rendah pengunjung perpustakaan yang
keluar masuk gedung itu tak mengusik rasaku.
Tiba-tiba seorang Bapak yang entah sejak kapan berdiri di
sampingku, memamerkan tawa renyahnya. Lalu berujar seolah sudah lama kenal,
“Kok kalian baru terlihat lagi di sini,” katanya membuka percakapan.
Aku menimpali ucapan Bapak tersebut singkat, tapi berusaha
menimbulkan kesan sewajarnya. Setelah Bapak itu tak melanjutkan obrolannya, aku
kembali menyanyikan lagu dengan gesekan biola.
“Tau nggak, bermain biola bisa menyebabkan timbulnya penyakit
paru lho,” katanya santai setelah mengisap panjang lintingan tembakau di
tangannya.
Sedikit terkejut mendengar ucapannya yang tidak biasa, aku
menurunkan biola dari pundak untuk pindah ke pangkuanku. “Ah Bapak, jangan
bercanda,” sanggahku tidak menerima pernyataannya.
“Coba kau perhatikan temanmu yang sedang mengelap penggesek itu
dengan getah kering biji jarak,” ungkapnya nampak senang seolah umpan pancingnya
disambar ikan. “Tentu saat kau gesekkan penggesek ke senar, debu-debu tak
bersalah akan bertebaran dan dengan mudah terhirup oleh hidungmu yang memang
berjarak sangat dekat dari tempat kau menggesekkannya,” tambahnya panjang memberi
penjelasan dari asumsinya tadi.
Aku hanya diam, tidak terlalu suka sore itu terganggu, selain
tidak ada alasan lain yang mampu aku utarakan untuk mematahkan argumennya.
“Merokok malah lebih berisiko terkena penyakit paru, Pak,” celetuk
temanku dari seberang yang masih asik mengelap bow dengan
rosin. Sepertinya ia juga tidak terima jika biola menjadi penyebab datangnya
penyakit fisik.
Si Bapak malah tertawa lebar. Kemudian ia ambil korek yang ada
di dekat tempatku duduk, membakar ujung rokok kedua semenjak ia di sini, lalu
berujar dalam, “Ya, merokok memang beresiko lebih ... ” intonasinya
menggantung. Aku masih terdiam, menunggu kelanjutan kalimatnya.
Sejenak ia menghisap rokok di jemarinya dengan penuh
penghayatan. “Apalagi kalau menjalani dua-duanya,”
akhirnya ia menyelesaikan kalimatnya sambil melirikku, lalu terkekeh
memperlihatkan giginya yang mulai keropos entah terkikis oleh apa.
Mendengarnya, bungkusan kotak dalam saku kemejaku terasa makin
merapat dekap ke dada.
Ciputat, 16 September 2015
Komentar
Posting Komentar