Langsung ke konten utama

Takziyah

Dokumentasi pribadi

Pagi itu, Paini meradang menahan sakit di bale tempatnya tidur. Ia tinggal seorang diri di rumah petaknya yang tidak besar tapi juga tidak kecil. Suaminya, Gimo telah lama meninggal karena penyakit kanker yang menggerogoti parunya. Begitu pula dengan anak tunggal Paini, meninggal karena kecelakaan. Sakit tua Paini membuatnya harus beristirahat di ranjang tiap hari.
Paini melirik jam dinding yang menggantung di gedhek rumahnya, tampak sarang laba-laba menghitam menutupi muka jam. Paini perlu menajamkan mata yang sudah lemah agar dapat menentukan waktu saat ini. Pukul sembilan, katanya lirih. Wajar, ia rasakan perutnya melilit. Biasanya setiap pagi-pagi sekali, Leli, keponakannya, datang mengantar makanan. Leli akan menemaninya hingga azan dhuhur menegur Leli pulang.
Paini memejamkan mata, sekadar untuk mengurangi nyeri pada pinggang belakangnya. Tapi, bukan kegelapan yang ia peroleh dengan menutup mata, malah sederet gambar masa lalu berjalan tanpa bisa ia kendalikan.
Paini menerawang, tampak olehnya keluarga Gimo datang bertandang ikut mengelukan duka di rumah Paini sepeninggal Gimo. Segelintir tetangga juga datang. Paini tak tahu pasti maksud utama kedatangan tetagganya, tapi ia bahagia. Yang pasti, setelah usai upacara penguburan Gimo, beberapa di antara mereka mengajak Paini berbicara, lalu menyebutkan angka-angka.
Kurang begitu mengerti, Paini bertanya, “Angka apa itu?”
“Hutang suamimu,” jawab mereka hampir serempak. Paini ber-ooh panjang tanpa meninggalkan kesan heran, meski ia agak terkejut. Paini tak pernah tahu suaminya memiliki hutang. Pengalaman mengajarkannya, betapa mengerikannya memiliki hutang. Ia pikir dengan jarangnya ia pergi belanja karena ia tak mau berhutang, suaminya pun tidak bakal berhutang. Makan sehari-hari ia tangguhkan pada hasil kebun samping rumah dan sepetak sawah peninggalan orang tuanya.
Hutang Gimo memang tidak banyak, menurut mereka, yang biasa menonton siaran berita korupsi di tivi, tak mencapai jutaan rupiah. Tapi uang Paini pun tak menyentuh ratusan ribu rupiah.
Setelah berjanji akan segera melunasi hutang Gimo, mereka buru-buru pulang. Paini lalu berjalan ke teras, membuka baskom bertutup serbet yang disediakan untuk menampung sumbangan uang para petakziyah. Paini tertawa getir, ia pikir baskom itu terlalu besar untuk dua amplop yang menggeletak pasrah di dasar baskom. Tawa Paini surut menjadi senyuman. Sepasang amplop yang kesepian, Paini mengumbar khayal.
“Ayo, ikut aku, biar kalian tak lagi merasa kesepian di baskom gelap ini,” kata Paini melucu, bermaksud menghibur diri sambil mengambil dua amplop dari baskom.
--o0o--
Masih di bale, Paini ikut tersenyum terbayang hari kematian Gimo. Entah sudah berapa tahun yang lalu, ia tak terlalu pandai menghitung hari. Ia juga tak pernah memeringati tiap tahun kematian suaminya seperti yang dilakukan oleh beberapa tetangga. Kiriman doa yang ia panjatkan mungkin bisa menggantikan peringatan tahunan itu, pikir Paini
Kantuk menyerang Paini. Semalam ia tak bisa tidur nyenyak. Kata beberapa orang, ketika usia telah lanjut, jadwal tidur yang teratur akan berantakan. Penurunan fungsi saraf, ujar orang-orang pintar yang pernah berbicara di balai desa.
Belum sampai detik jam berbunyi belasan kali dari Paini mengatupkan kelopak mata, suara pintu rumah yang digeser memaksa Paini kembali membuka mata.
Paini tersenyum, Leli sudah datang. Ia tak jadi membawa kantuknya ke alam tidur. Paini begitu bahagia jika ada orang yang berkunjung ke rumahnya. Paini memiliki teman berbincang, ia tak lagi kesepian. Apalagi Leli, Leli pandai sekali bertutur cerita.
Saat Paini masih kuat berjalan-jalan lama, ia akan datang ke rumah saudara-saudaranya. Sampai luar desa pun ia kunjungi, tentu dengan jalan kaki. Selain untuk menghemat uang, kakinya pun bisa lebih kuat. Sepuluh ribu langkah tiap hari, kata karyawan pabrik suatu saat. Paini memang percaya omongan orang-orang yang dianggap pintar. Karyawan juga termasuk hitungan orang pintar bagi Paini, karena butuh surat-surat yang tak begitu ia mengerti untuk menjadi bagian dari karyawan pabrik.
Ketika kedua kakinya mulai tak sanggup berjalan jauh dan lama, ia kadang hanya keliling desa. Namun sejak beberapa minggu lalu, Paini lebih sering terbaring atau sesekali duduk di ranjang kamar. Satu waktu, Paini akan memaksa menapakkan kaki ke teras dan duduk di lincak depan rumah.  Ia akan mengamati pohon-pohon dan menyapa orang lewat atau menonton kelinci hutan berkejaran, sekadar menghilangkan rasa bosan di kamar.
“Kenapa wajahmu murung, Lel?” tanya Paini saat Leli tengah menyiapkan makan pagi untuk Paini. Leli tak menjawab. Ia tentu tak mau gelisah yang ia bawa dari luar, masuk ke dalam rumah yang sudah menyedihkan ini. Leli menata nasi dan menuangkan sayur daun singkong di piring lalu memberikannya pada Paini.
“Maaf Lek, tidak apa-apa kok,” jawab Leli. Leli terpaksa menjawab saat mengetahui mata Paini menolak sodoran piringnya jika Leli belum juga angkat bicara.
Paini menerima piring yang diserahkan Leli. Meski gerakannya lambat dan terbatas, untuk urusan makan, ia tak mau lagi menyusahkan orang dengan menyuapi dirinya. “Lha wong tinggal nyendok wae kok, nyusahin orang terus,” katanya saat ditanya kenapa tak meminta bantuan orang lain untuk menyupinya.
“Lel, kamu sudah merasa keberatan merawatku?” tanya Paini tiba-tiba. “iya ya, Lel, kenapa lama sekali maut menjemputku,” lanjut Paini sebelum Leli sempat menjawab pertanyaannya. Leli tak menanggapi penuturan Paini. Barangkali Leli tak menemukan jawaban yang tepat, ia pun lebih memilih diam.
Paini tak memedulikaan diamnya Leli. Ia kembali berucap, “Menurutmu Lel, apakah akan banyak petakziyah yang datang ketika aku mati nanti?” kata Paini sambil menatap genteng rumahnya yang dihuni beberapa keturunan monggo.
Leli tercekat mendengar penuturan Paini kali ini. Ia tahu betul maksud Paini. Dua Lelaki dari keluarga Paini meninggal dengan kisah berbeda namun sama-sama mengiris hati, terutama untuk Paini sendiri. Leli kala itu masih berada di usia SD, namun ia cukup mengerti apa yang terjadi. Leli tak mampu lagi menjawab pertanyaan Paini. Leli yang biasanya ceriwis berceloteh, kini tak punya nyali menguraikan jawaban.
Lama sudah Leli terdiam, Paini pun tak kembali membuka suara. Paini juga tidak menyantap makanan di piring yang sedari tadi ia pegang. Tiba-tiba selera makannya hilang. Derik belalang di kebun mengiringi kesunyian di antara keduanya. “Mengapa kau tak menjawab pertanyaanku? Apakah kau benar-benar mengharapkanku segera mati?” Paini menutup keheningan mereka dengan pertanyaan yang membuat Leli makin tercekat. Ternyata Paini tidak sekadar mengungkapkan isi hatinya, ia benar-benar menunggu pertanyaannya dijawab Leli.
Tiba-tiba ingatan memaksa Paini mengenang kejadian kecelakaan putra semata wayang. Mayat anaknya dibawa warga kampung dengan omelan-omelan. Kecelakaan pemabuk, ribut warga. Paini hanya sanggup menatap nanar mayat yang dipenuhi darah, sedang Gimo tetap di bale kamar, tak mampu bangun. Sisa asap rokok puluhan tahun lalu tak mampu ditahan oleh parunya yang lemah.
Tak ada tetangga yang datang di kematian anaknya. Hanya Leli dan bapaknya yang merelakan waktu mengurangi luka hati Paini. Paini bahkan ikut mencangkul tanah tempat istirahat terakhir anaknya, dibantu bapak Leli dan satu warga bayaran yang dari mukanya tampak sangat terpaksa. Sabar selalu ia rawat dalam dada.
Selang beberapa minggu setelah kematian anak Paini yang disusul meninggalnya Gimo, pemilik ladang dan sawah puluhan hektar yang tinggal tak jauh dari rumahnya menutup usia. Mati yang wajar, pikir Paini saat itu. Tetangganya itu sudah sangat tua, namun masih sering bertandang kemana-mana, termasuk ke sawah dan ladangnya. Paini turut datang melayat, meski duka kehilangan keluarganya belum sepenuhnya luntur.
Banyak sekali orang yang ikut hormat kepergian saudagar kampung itu. Bahkan rumah dan halamnnya yang luas masih belum cukup menampung tamu. Beberapa tamu ia kenal baik, namun lebih banyak yang asing dari ingatannya.
Tanpa sengaja Paini nyeletuk, “Kalau aku mati nanti juga ingin lah, dilayat dan diiring banyak orang seperti ini.” Mendengar celetukan Paini, orang yang duduk di sebelah Paini yang tak lain tetangga Paini menanggapi ucapannya, “Bukannya kamu tak punya banyak kenalan, ya? Kaya juga tidak. Apalagi sekarang kamu tinggal sendiri, mana mungkin kematianmu dilayat banyak orang?” sindir tetangga Paini tanpa mengalihkan pandangannya semula ke arah Paini.
Paini hanya nyengir mendengar penuturan tetangganya. Ia yakin ada hal lain selain kaya dan terkenal yang dapat menarik tamu datang ke rumahnya. Kalau kenalan, mungkin Paini bisa mengusahakannya. Paini kenal hampir semua penduduk desa, tinggal apakah Paini mampu menarik hati mereka untuk datang ke rumahnya yang sepi. Semoga saja Tuhan mengerti, doa Paini.
Paini mengatupkan kedua kelopak matanya. Rasanya berat dan sakit teringat dua kematian orang bagian dari dirinya. Paini tersenyum kecut. Ia ingat betul ucapan tetangganya itu, menempel kuat pada pikirannya, sekuat harapan Paini mewujudkan impiannya.
 “Lel, besok kamu masak di sini saja. Sudah lama dapurku tak mengebulkan asap,” kata Paini ketika Leli hendak pamit pulang. Leli merasa aneh. Bukankah dapur bu leknya sudah lama dibongkar? Tak ada lagi dapur. Tapi Leli tak membantah, ia hanya mengangguk mengiyakan.
--o0o--
Pagi setelah obrolan tegang Leli dengan Paini, Leli datang lebih pagi dari biasanya. Ia merasa perlu segera menemui Paini, anaknya tak rewel lagi seperti kemarin. Setelah mengantar anaknya ke sekolah, Leli langsung belok ke arah rumah Paini. Ia sudah membawa bahan makanan. Kali ini dia ingin masak di rumah Paini, seperti keinginan Paini kemarin.
Sampai di rumah Paini, Leli menuju bale tempat Paini tidur. Biasanya Paini selalu duduk atau sekadar membuka mata saat Leli datang. Mungkin Paini sedang butuh istirahat, pikir Leli, jadi Leli tak ingin mengganggunya. Ia langsung menuju dapur setelah melihat mata Paini masih terpejam. Sayangnya Leli melewatkan detail ciri orang tidur, apalagi saat usia senja tentu kentara dengan gerakan naik turunnya dada atau perut. Leli tidak mengamati tidak adanya gerak napas Paini.
Kini Leli duduk mematung mengantar kepergian jenazah Paini. Ia tak memerhatikan kasuk-kusuk tetangganya membicarakan pelayat kematian Paini yang jumlahnya membludak. Halaman rumah tetangga kanan-kiri rumah Paini juga tak mencukupi sebagai tempat petakziyah.
Tujuh hari berturut-turut rumah yang ditinggalkan Paini tak pernah sepi. Ada saja makanan yang tersaji di hadapan para petakziyah meski keluarga mengaku tak menyajikan. Yang menjadi bahasan utama mereka tak lain karena hampir semua petakziyah Paini tidak dikenal warga, bahkan oleh sanak saudara. Menyebar berita bahwa tamu yang tidak dikenal adalah para malaikat. Kasak-kusuk pun tak berhenti seusai para pelayat pulang dari kubur, bahkan makin menyebar setelah lewat empat puluh hari kematian Paini.


Keterangan:
Bale         : tempat tidur dengan atau tanpa kasur, ranjang
Lincak      : tempat duduk yang biasanya terbuat dari bambu yang disusun
Monggo    : serangga berkaki delapan, mirip laba-laba tapi tidak beracun dan menyerang
Wong tinggal nyendok wae kok: tinggal menyendok saja kok


Dimuat dalam Majalah Denta Edisi IV

Komentar

Populer

Satu Dekade IKAMIFDA: Cukup Bisa Berjalan Saja?

Manusia merupakan satu dari sekian spesies sosial di bumi. Mereka hidup dalam kelompok tertentu dan saling membutuhkan. Barangkali seseorang bisa bertahan hidup seorang diri, di hutan misalnya, tapi ia lantas mati tanpa peninggalan, apalagi keturunan. Tiada kenangan, kesepian. Suram. Tanpa generasi, lantaran manusia bukan makhluk yang bisa bereproduksi sendiri layaknya pohon pisang. Bahkan bila takdir menunjuknya dengan status hermafrodit, ia akan tetap menjomlo. Kecuali jika ia diberi kemampuan berpartenogenesis, sehingga dapat melakukan pembuahan tanpa pasangan. Hmmm. Sudalaa kita membahas kelompok, bukan pasangan ~ Padahal hanya secuil pembahasan tentang pasangan. Tapi baiklah, mari kembali pada kelompok. Kelompok manusia dibentuk atas kesamaan sejarah hingga kesamaan tujuan, gabungan keduanya, atau kesamaan lain yang akan menjadi banyak jika semua pemetaannya disebutkan. Kelompok yang dibentuk sejatinya diharapkan dapat menguatkan jati diri mereka sebagai manusia, mesk...

Fenomena Jelang Tahun Duda yang Menyekik Kegengsian

Dokumentasi Pribadi Agustus kali ini terasa begitu ramai, terutama bagi muslim di daerah Jawa. Selain terdapat dua perayaan besar, Lebaran Haji dan Ulang Tahun RI, ada perayaan lain yang mampu meningkatkan tekanan dan kolesterol darah dalam tubuh. Tumpukan undangan nikah berdesakan merayu dompet yang belum sempat penuh. Yap, sebulan ini banyak orang menyelenggarakan pesta pernikahan. Saking jamaknya, dalam sehari bisa mencapai belasan acara. Bahkan pada hari tertentu yang dinilai baik, akad nikah sekecamatan berlangsung tak kurang 27 kali. Iya, sebanyak 27 ucap akad nikah sah di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, dalam sehari. Itu terjadi tanggal 18 Agustus lalu saat jalanan tampak rasa lebaran. Yang bingung siapa? Petugas KUA, mengatur jadwal agar tak tumpang tindih sekaligus sesuai hasil hitung-hitungan sesepuh penyelenggara acara. Yang ketar-ketir siapa? Yang diundang, meraba-raba isi dompet apakah bisa pindah ke amplop dan tetap cukup untuk ngopi di warkop. Yang gala...

Surat Kartini untuk Bangsanya

Dokumentasi pribadi Saya dikenalkan dengan R.A. Kartini (Raden Adjeng sebelum menikah, Raden Ayu usai menikah) lewat mata pelajaran sejarah sekadar sebagai pahlawan perempuan Indonesia. Kartini perempuan asli Jepara yang lahir pada bulan yang sama dengan bulan lahir saya, April. Hanya beda tipis tanggal dan tentu saja beda jauh tahun lahir. Selain dari tempat dan tanggal lahir, sosok ibu yang fotonya dipasang di dinding kelas Ibtidaiyah saya dulu—sehingga gambar dirinya cukup melekat dalam pikiran—selalu berpakaian kebaya, rambut tersanggul rapi, khas perempuan ningrat Jawa. Kartini, satu-satunya puan yang namanya diabadikan menjadi judul lagu wajib nasional gubahan penyair yang juga mencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia, Wage Rudolf Supratman. Ibu Kita Kartini , judul lagunya. Penghargaan semacam ini tentu tak sembarang diberikan. Menggunakan nada sederhana membuat lagu tersebut akrab dinyanyikan anak-anak, meski tak seluruh lirik tergelorakan hingga terdenga...