Langsung ke konten utama

Tutup?


Dokumentasi pribadi

Satu, dua, tiga, empat, dan masih banyak lagi dari mereka yang datang. Ada yang sekadar menengok dari kejauhan, tapi ada pula yang memastikan benar di depan pintu masuk. Mengamati lekat-lekat, mengeja dengan tepat, tulisan yang tertempel di pintu perpustakaan yang masih rapat. T-U-T-U-P.

Beberapa dari mereka segera melihat pergelangan tangan. Bagi mereka yang tidak punya atau terlupa memakai jam tangan, melihat layar hp, memastikan pukul berapa sekarang. Apakah masih terlalu pagi mereka bertandang? Mereka kira sudah pukul sembilan, bahkan telah lewat setengah jam. Benar, jam telah menunjukkan pukul sepuluh kurang seperempat jam lagi.

“Aih, kenapa pintu itu masih saja tertutup? Bukankah seharusnya sudah buka sejak sejam yang lalu?” pikir mereka bertanya-tanya, kesal mendapati kenyataan di depan mata. "Apakah petugas lupa membukanya?" tambah yang lain tidak terima.

Satu-dua mulai balik kanan, entah langsung pulang atau mampir dulu ke tempat lain. Beberapa ada rela yang menunggu, barangkali petugas memang lupa atau mungkin terlambat bangun. Khawatir kalah cepat untuk masuk, bahkan ada juga yang menunggu benar-benar di dekat pintu masuk perpustakaan, berharap setelah terbuka nanti, bakal bisa langsung masuk.

Satu atau dua dari yang rela menunggu, menyambi ngobrol riang. Namun ada pula yang menggerutu tak jelas dalam kerumunan. Sedang kau yang tengah mengamati tingkah mereka hanya tersenyum tertahan.

Memang, ada beragam alasan mereka ingin masuk ke perpustakaan utama Universitas yang membawa nama Islam ini. Dari ingin membaca buku, mencari referensi, mengembalikan pinjaman buku sebab lewat tempo, memperoleh wi-fi gratis, atau bahkan mengambil barang yang tertinggal, cas laptop misalnya. Kadang, terlalu asik dengan hal yang ditekuni membuat lupa banyak hal bahkan yang remeh sekali pun.

Setengah jam, satu jam menunggu, sepertinya pintu perpustakaan itu memang tak akan dibuka. Benar-benar tutup. Kerumunan penunggu terbukanya pintu perpustakaan alih-alih berkurang, justru bertambah tiap putaran jarum jam.

“Astaga,” tiba-tiba terdengar satu suara yang sejak sejam tadi menunggu di bawah sejuk pohon, mengagetkan penunggu-penunggu nyata lain, mungkin juga penunggu pohon yang tak kasat mata. Seruan itu tidak hanya mengagetkan, tapi juga membangunkan mereka dari lamunan dan lelap ketidakpedulian.

“Bukankah hari ini tanggal satu Muharam, tahun baru Hijriyah. Wajarlah perpus tutup,” katanya terkejut sambil menepuk jidat. Penunggu lain yang mendengar ujarannya menarik napas panjang, mengiyakan ucapannya dengan sesal akibat kesadaran yang terlambat.

Kau lagi-lagi hanya tersenyum melihat reaksi mereka menyadari alasan perpustakaan utama Universitas itu tutup. “Dasar mahasiswa, yang diingat hanya kembang api saat pergantian tahun, bukan berdoa di penutup dan pembuka tahun,” ujarmu sambil tertawa menutup tontonanmu kali ini.


Ciputat, 25 Oktober 2014


Komentar

Populer

Satu Dekade IKAMIFDA: Cukup Bisa Berjalan Saja?

Manusia merupakan satu dari sekian spesies sosial di bumi. Mereka hidup dalam kelompok tertentu dan saling membutuhkan. Barangkali seseorang bisa bertahan hidup seorang diri, di hutan misalnya, tapi ia lantas mati tanpa peninggalan, apalagi keturunan. Tiada kenangan, kesepian. Suram. Tanpa generasi, lantaran manusia bukan makhluk yang bisa bereproduksi sendiri layaknya pohon pisang. Bahkan bila takdir menunjuknya dengan status hermafrodit, ia akan tetap menjomlo. Kecuali jika ia diberi kemampuan berpartenogenesis, sehingga dapat melakukan pembuahan tanpa pasangan. Hmmm. Sudalaa kita membahas kelompok, bukan pasangan ~ Padahal hanya secuil pembahasan tentang pasangan. Tapi baiklah, mari kembali pada kelompok. Kelompok manusia dibentuk atas kesamaan sejarah hingga kesamaan tujuan, gabungan keduanya, atau kesamaan lain yang akan menjadi banyak jika semua pemetaannya disebutkan. Kelompok yang dibentuk sejatinya diharapkan dapat menguatkan jati diri mereka sebagai manusia, mesk...

Fenomena Jelang Tahun Duda yang Menyekik Kegengsian

Dokumentasi Pribadi Agustus kali ini terasa begitu ramai, terutama bagi muslim di daerah Jawa. Selain terdapat dua perayaan besar, Lebaran Haji dan Ulang Tahun RI, ada perayaan lain yang mampu meningkatkan tekanan dan kolesterol darah dalam tubuh. Tumpukan undangan nikah berdesakan merayu dompet yang belum sempat penuh. Yap, sebulan ini banyak orang menyelenggarakan pesta pernikahan. Saking jamaknya, dalam sehari bisa mencapai belasan acara. Bahkan pada hari tertentu yang dinilai baik, akad nikah sekecamatan berlangsung tak kurang 27 kali. Iya, sebanyak 27 ucap akad nikah sah di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, dalam sehari. Itu terjadi tanggal 18 Agustus lalu saat jalanan tampak rasa lebaran. Yang bingung siapa? Petugas KUA, mengatur jadwal agar tak tumpang tindih sekaligus sesuai hasil hitung-hitungan sesepuh penyelenggara acara. Yang ketar-ketir siapa? Yang diundang, meraba-raba isi dompet apakah bisa pindah ke amplop dan tetap cukup untuk ngopi di warkop. Yang gala...

Surat Kartini untuk Bangsanya

Dokumentasi pribadi Saya dikenalkan dengan R.A. Kartini (Raden Adjeng sebelum menikah, Raden Ayu usai menikah) lewat mata pelajaran sejarah sekadar sebagai pahlawan perempuan Indonesia. Kartini perempuan asli Jepara yang lahir pada bulan yang sama dengan bulan lahir saya, April. Hanya beda tipis tanggal dan tentu saja beda jauh tahun lahir. Selain dari tempat dan tanggal lahir, sosok ibu yang fotonya dipasang di dinding kelas Ibtidaiyah saya dulu—sehingga gambar dirinya cukup melekat dalam pikiran—selalu berpakaian kebaya, rambut tersanggul rapi, khas perempuan ningrat Jawa. Kartini, satu-satunya puan yang namanya diabadikan menjadi judul lagu wajib nasional gubahan penyair yang juga mencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia, Wage Rudolf Supratman. Ibu Kita Kartini , judul lagunya. Penghargaan semacam ini tentu tak sembarang diberikan. Menggunakan nada sederhana membuat lagu tersebut akrab dinyanyikan anak-anak, meski tak seluruh lirik tergelorakan hingga terdenga...