Langsung ke konten utama

Rahasia yang Terbelah


Judul                   : Senja Terbelah di Bumi Surabaya
Penulis                : Eni Ratnawati
Penerbit              : Writing Revolution
Cetakan               : pertama, April 2015
Tebal                   : 400 halaman

Surat manis tanpa pengirim warna merah jambu berhiaskan mawar putih dan dua lilin miring beberapa kali diterima sang direktur muda sebuah perusahaan besar, Bayu Dirgantara. Meski lagatnya romantis, surat itu tampak seperti sebuah ancaman. Tapi Bayu tidak merasa cemas dengan kehadiran surat tersebut. Ia bahkan mengacuhkannya (halaman 21-22). Ia lebih tertarik pada hal lain yang ingin segera diselesaikannya, pesan orang mati. Sebuah wasiat almarhum ayah Bayu mengantarkan ia pada kota Surabaya, mengabaikan sejumlah undangan kehormatan lain di Jakarta (halaman 40).

Sebagai alasan untuk menutupi inti kepergiaannya ke Surabaya, Bayu memenuhi permohonan menjadi pembicara seminar di kampus Merah Jambu—kampus yang hampir tidak ada istimewanya—di kota yang sama (halaman 43). Bersama adiknya, Nouri, ia mencoba mencari keluarga lain Dirgantara. Teguh Surya Dirgantara menjadi nama utama yang akan mereka cari.

Akan tetapi tiba-tiba Nouri malah pergi tanpa pamit saat tiba waktunya untuk mencari keluarga tersebut (halaman 150-152). Ditambah dengan diperolehnya kembali surat merah jambu dengan mawar putih dan dua lilin miring di hotel tempatnya menginap, membuat Bayu semakin bingung dan khawatir. Untungnya, secara kebetulan Bayu dapat merekrut Nayla, mahasiswi Merah Jambu untuk bekerja tiga minggu padanya dengan gaji besar sebagai permintaan maaf Bayu yang menjadi penyebab terjadinya pemecatan Nayla yang baru sehari kerja di restoran besar Natasha, mantan pacar Bayu (halaman 183-186).

Berbekal beberapa alamat yang diberikan Virnie, mantan pacar Teguh Surya Dirgantara, Bayu merambah di antara kontrakan kumuh di bawah sengat matahari Surabaya. Sedikit demi sedikit petunjuk mulai diperoleh. Dan hasil akhir yang didapatkan menyatakan bahwa keluarga Teguh ada di pulau Sulawesi, namun tanpa diketahui alamat pasti (halaman 342).

Sementara itu, di kantor Dirgantara di Jakarta, surat-surat merah jambu diteliti oleh Presiden Direktur Dirgantara, Marissa, ibu Bayu dan Nouri. Setelah diselidiki, Marissa tahu bahwa sekretaris Direktur, Reta yang ternyata merupakan anak Dirgantara dari beda ibu bernama Mariana yang menjadi pengirim surat. Reta berhasrat untuk mengambil alih perusahaan dari Bayu sebab Reta lah keturunan asli Dirgantara dari Mariana (halaman 378-388).

Menjelang kembalinya Bayu ke Jakarta, Nayla mendapatkan pesan dari salah seorang dari sekian banyak Teguh yang pernah dikiriminya pesan di sosial media. Teguh mengajak Nayla untuk bertemu di suatu tempat (halaman 352-354). Bayu dan Nayla akhirnya bertemu dengan Teguh, Teguh yang mereka cari, Teguh Surya Dirgantara.

Kehadiran Teguh menyibak banyak hal yang samar, baik hubungannya dengan Bayu maupun Nayla. Dari Teguh pula, mengalir ke muara pemahaman Bayu cerita keluarga Dirgantara tanpa reka. Sementara itu, Marissa tetap berusaha menutupi rahasia tentang status Bayu demi nama besar keluarga dan perusahaan. (halaman 389-391).

Dalam novel ini, secara tersirat Eni seperti menjelaskan keteguhan hati wanita yang digambarkan dari tokoh Marissa dan Nayla. Meski keduanya bukan sebagai tokoh utama, mereka selalu menjadi pelengkap dan penyempurna khususnya dari kelemahan tokoh utama, Bayu. Eni juga tidak menampakkan keberpihakannya pada satu golongan, namun ia memberi penjelasan yang nyaman dan apik dari penokohan, kesannya tidak menggurui.


Novel ini manis untuk dibaca. Alur ceritanya menyenangkan dan tidak membosankan, melompat-lompat tanpa membuat pembaca bingung dan kalap. Sayangnya beberapa kali ditemukan kesalahan penulisan seperti dua kata tanpa spasi atau huruf-huruf yang tidak sesuai. Kendati demikian kekurangan tersebut tidak mengurangi isi cerita yang disampaikan Eni. Novel Senja Terbelah di Bumi Surabaya cocok dibaca untuk mengisi waktu luang.

Komentar

Posting Komentar

Populer

Satu Dekade IKAMIFDA: Cukup Bisa Berjalan Saja?

Manusia merupakan satu dari sekian spesies sosial di bumi. Mereka hidup dalam kelompok tertentu dan saling membutuhkan. Barangkali seseorang bisa bertahan hidup seorang diri, di hutan misalnya, tapi ia lantas mati tanpa peninggalan, apalagi keturunan. Tiada kenangan, kesepian. Suram. Tanpa generasi, lantaran manusia bukan makhluk yang bisa bereproduksi sendiri layaknya pohon pisang. Bahkan bila takdir menunjuknya dengan status hermafrodit, ia akan tetap menjomlo. Kecuali jika ia diberi kemampuan berpartenogenesis, sehingga dapat melakukan pembuahan tanpa pasangan. Hmmm. Sudalaa kita membahas kelompok, bukan pasangan ~ Padahal hanya secuil pembahasan tentang pasangan. Tapi baiklah, mari kembali pada kelompok. Kelompok manusia dibentuk atas kesamaan sejarah hingga kesamaan tujuan, gabungan keduanya, atau kesamaan lain yang akan menjadi banyak jika semua pemetaannya disebutkan. Kelompok yang dibentuk sejatinya diharapkan dapat menguatkan jati diri mereka sebagai manusia, mesk...

Fenomena Jelang Tahun Duda yang Menyekik Kegengsian

Dokumentasi Pribadi Agustus kali ini terasa begitu ramai, terutama bagi muslim di daerah Jawa. Selain terdapat dua perayaan besar, Lebaran Haji dan Ulang Tahun RI, ada perayaan lain yang mampu meningkatkan tekanan dan kolesterol darah dalam tubuh. Tumpukan undangan nikah berdesakan merayu dompet yang belum sempat penuh. Yap, sebulan ini banyak orang menyelenggarakan pesta pernikahan. Saking jamaknya, dalam sehari bisa mencapai belasan acara. Bahkan pada hari tertentu yang dinilai baik, akad nikah sekecamatan berlangsung tak kurang 27 kali. Iya, sebanyak 27 ucap akad nikah sah di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, dalam sehari. Itu terjadi tanggal 18 Agustus lalu saat jalanan tampak rasa lebaran. Yang bingung siapa? Petugas KUA, mengatur jadwal agar tak tumpang tindih sekaligus sesuai hasil hitung-hitungan sesepuh penyelenggara acara. Yang ketar-ketir siapa? Yang diundang, meraba-raba isi dompet apakah bisa pindah ke amplop dan tetap cukup untuk ngopi di warkop. Yang gala...

Surat Kartini untuk Bangsanya

Dokumentasi pribadi Saya dikenalkan dengan R.A. Kartini (Raden Adjeng sebelum menikah, Raden Ayu usai menikah) lewat mata pelajaran sejarah sekadar sebagai pahlawan perempuan Indonesia. Kartini perempuan asli Jepara yang lahir pada bulan yang sama dengan bulan lahir saya, April. Hanya beda tipis tanggal dan tentu saja beda jauh tahun lahir. Selain dari tempat dan tanggal lahir, sosok ibu yang fotonya dipasang di dinding kelas Ibtidaiyah saya dulu—sehingga gambar dirinya cukup melekat dalam pikiran—selalu berpakaian kebaya, rambut tersanggul rapi, khas perempuan ningrat Jawa. Kartini, satu-satunya puan yang namanya diabadikan menjadi judul lagu wajib nasional gubahan penyair yang juga mencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia, Wage Rudolf Supratman. Ibu Kita Kartini , judul lagunya. Penghargaan semacam ini tentu tak sembarang diberikan. Menggunakan nada sederhana membuat lagu tersebut akrab dinyanyikan anak-anak, meski tak seluruh lirik tergelorakan hingga terdenga...