![]() |
| Lambang kefarmasian (Mocha) |
Sakit, dilihat dari sisi siapa pun penderitanya tidak ada yang bisa
dibilang enak. Coba dicermati,
‘penderita’, kata
ganti orang untuk sebutannya saja sudah menggambarkan kesengsaraan. Terlebih
apa yang terjadi dan dirasa pen-derita-nya. Ya kan?
Siapa sih yang mau sakit? Mayoritas—bahkan mungkin semua—makhluk di
muka maupun dalam bumi ini tak mau mengalami kondisi sakit. Tapi tak
sedikit orang dengan sadar meremehkan masa sehatnya. Sudah tahu punya riwayat
penyakit maag, tapi makan seenaknya, baik menu maupun frekuensinya. Kalau kambuh,
baru deh ngantri-ngantri di puskesmas, mengiba-iba minta obat. Ini juga nih yang dianggap menjadi salah satu penyebab bengkakan hutang BPJS Kesehatan, banyak
orang yang sakit dikit langsung datang berobat.
Begitulah, obat seolah menjadi solusi
praktis mengatasi penyakit. Padahal kenyataannya, seperti disimbolkan dengan
bisa ular, obat merupakan racun. Namun banyak orang menganggap obat layaknya
makanan, bisa dikonsumsi sehari-hari, bahkan disepelekan semacam mainan. Padahal jika tidak tepat penggunaannya, obat
tak dapat mengatasi masalah, justru menambah dan memperparah permasalahan.
Misalnya saja perkara asam urat dalam darah. Selain memperbanyak
konsumsi air bening—tanpa warna dan rasa—selayaknya orang yang memiliki riwayat
penyakit asam urat, menahan diri agar tidak mengonsumsi makanan yang mengandung
purin tinggi.
Purin merupakan komponen yang terdapat dalam sel hewan maupun
tumbuhan. Diantara hasil akhir pengolahan purin dalam tubuh berupa asam urat.
Dengan demikian, mengonsumsi makanan yang mengandung purin tinggi dapat
meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Makanan yang dimaksud seperti jeroan
(otak, hati, jantung, ginjal, serta saudara-saudaranya), daun serta biji
melinjo, dan serba-serbi daging merah.
Nah, kalau nyeri sendi mulai terasa akibat penumpukan asam urat di
persendian, konsumsi obat pereda nyeri tak dapat terhindarkan. Usai menggunakan
obat, nyeri lewat. Kemudian makan hidangan berpurin tinggi lagi, lupa atau
pura-pura lupa pernah nyeri-nyeri di sendi. Lantas menggunakan obat saat nyeri terasa kembali. Begitu seterusnya.
Tuh kan, jadinya obat mulu.
Mungkin, andai obat pengurang rasa nyeri yang digunakan relatif aman,
semacam asam mefenamat atau parasetamol (selain penurun panas, parasetamol bisa
juga mengurangi nyeri, yes) tak begitu masalah. Meski demikian, obat
pereda nyeri tersebut tak pantas jadi andalan setiap saat.
Masalahnya, tak sekadar obat pereda nyeri, sering kali obat yang digunakan
justru sembarangan
seperti obat dengan kandungan deksametason atau metilprednisolon. Padahal nama
dua obat terakhir yang tergabung dalam bangsa kortikosteroid ini bukan jenis obat
bebas yang bisa dibeli tanpa resep dokter. Eeh, malah gampang sekali dibeli dan
digunakan asal.
Memang, efek deksametason beserta keluarganya sebangsa dan setanah air kortikosteroid tadi
ces pleng untuk meredakan nyeri-nyeri begitu. Tapi efek samping penggunaan
jangka panjangnya tak bisa ditinggal lalu. Katarak, osteoporosis, darah tinggi,
kencing manis, kemudian merembet dan menjalar-jalar selalu kian kemari serupa
ular naga yang panjangnya bukan kepalang.
Maka kemudian ketika penyakit menumpuk, hidup makin tak mudah lepas dari kasih sayang obat. Dari obat kembali ke obat. Hmmm
Maka kemudian ketika penyakit menumpuk, hidup makin tak mudah lepas dari kasih sayang obat. Dari obat kembali ke obat. Hmmm
Ah, bukankah efek buruk obat bisa dikurangi dengan minum air yang
banyak? Air kan bisa membersihkan makanan beracun dari tubuh, begitu pula yang
terjadi dengan obat,
bukan?
Hohoo mohon maaf Saudara-Saudara, sayangnya tidak
demikian. Efek buruk obat tak bisa digagalkan cukup
dengan minum air saja. Minum air hanya mampu membersihkan zat hasil olahan yang
terjadi dalam tubuh, tentu hal ini terjadi setelah
obat berefek pada tubuh. Sebagian besar obat akan menimbulkan
efek—yang diharapkan
maupun efek samping—setelah diserap ke pembuluh darah dan berikatan dengan
pasangannya yang disebut reseptor. Dua efek tersebut tergarap relatif bersamaan,
sehingga tidak cukup sederhana untuk dipisah lagi dipilah.
Ribet. Yaa, siapa yang tahu proses semacam itu? Konsumen kan tinggal
terima. Kalau sakit, minum obat. Obat manjur, ya jadi andalan tiap sakit. Konsumen
tidak memikirkan efek samping yang merembet. Apalagi efek samping jangka
panjang, siapa yang sadar kalau itu dampak dari obat tersebut?
Baiklah, konsumen memang tidak bisa disalahkan. Konsumen harus
dilayani bagai baginda raja, layaknya warga internet mulia yang berkuasa. Mari
kita tengok penyedianya, toko. Di toko mana kita dapat menemukan beragam jenis
obat-obatan? Oke, apotek.
Apotek adalah sarana pelayanan farmasi resmi. Apotek dapat melakukan
transaksi obat, dari obat populer yang banyak diiklankan di media massa hingga obat
terkenal tegal penyalahgunaannya, seperti narkoba. Transaksi ini tentu
dilakukan dengan beragam aturan. Kortikosteroid, antibiotik, dan berderet-deret
golongan obat keras lain tidak dapat dilayani apotek tanpa resep merupakan satu diantara segudang aturan yang ada. Lantas,
mengapa obat keras bangsa kortikosteroid maupun antibiotik dapat dengan mudah
diperoleh konsumen dari apotek tanpa resep dokter?
Kalau konsumen yang minta dilayani obat keras tanpa resep dokter,
apotek seharusnya kan bisa menolak permintaan
tersebut dengan tegas, lantas menyarankan obat lain yang lebih pantas. Alih-alih menepis permintaan, apotek justru
menyarankan. Yah hitung-hitung kesempatan
untuk menambah omzet harian. Demikian, bahkan apotek sebagai toko obat yang
legal saja dengan mudah dapat kita peroleh obat keras tanpa resep dokter. Yaa
jangan kaget kalau narkoba bisa gangsar berseliweran hingga sudut sel-sel
penjara.
Selain tidak mengizinkan obat keras dibeli tanpa resep dokter,
apotek juga seharusnya memberikan informasi seputar obat. Nama dan kandungan,
khasiat, dosis, cara penggunaan, hingga efek samping obat merupakan informasi yang
berhak diketahui konsumen. Nah, konsumen yang cerdas tentu akan aktif mengorek
informasi terkait obat yang akan diterima. Sementara, apoteker lah yang
berwenang sekaligus berkewajiban dalam perkara obat-obat ini.
Meskipun aturan telah disusun ketat, selama ada celah tentu udara
masih mampu menembusnya. Kondom saja yang katanya rapat, masih ada sperma yang
lolos melewatinya. Kembali lagi ke obat, kalau apoteker tak mau acuh bersikap, di sisi lain konsumen juga bodo
amat, ya sudah siap-siap cari tambahan hutangan bareng BPJS Kesehatan buat
biaya berobat.

Panjang banget mba ismaaaaaa
BalasHapusUlar naga memang panjangnya bukan kepalang :D
Hapus