Langsung ke konten utama

Satu Dekade IKAMIFDA: Cukup Bisa Berjalan Saja?

Manusia merupakan satu dari sekian spesies sosial di bumi. Mereka hidup dalam kelompok tertentu dan saling membutuhkan. Barangkali seseorang bisa bertahan hidup seorang diri, di hutan misalnya, tapi ia lantas mati tanpa peninggalan, apalagi keturunan. Tiada kenangan, kesepian. Suram.

Tanpa generasi, lantaran manusia bukan makhluk yang bisa bereproduksi sendiri layaknya pohon pisang. Bahkan bila takdir menunjuknya dengan status hermafrodit, ia akan tetap menjomlo. Kecuali jika ia diberi kemampuan berpartenogenesis, sehingga dapat melakukan pembuahan tanpa pasangan. Hmmm. Sudalaa kita membahas kelompok, bukan pasangan ~

Padahal hanya secuil pembahasan tentang pasangan. Tapi baiklah, mari kembali pada kelompok.

Kelompok manusia dibentuk atas kesamaan sejarah hingga kesamaan tujuan, gabungan keduanya, atau kesamaan lain yang akan menjadi banyak jika semua pemetaannya disebutkan. Kelompok yang dibentuk sejatinya diharapkan dapat menguatkan jati diri mereka sebagai manusia, meski dengan versi dan penjabaran masing-masing yang hasilnya bisa bermacam bahkan bersebrangan.

Kelompok-kelompok manusia yang terbentuk ini memiliki banyak sebutan. Ada keluarga, komunitas, organisasi, grup—hasil serapan dari bahasa Inggris untuk lema kelompok—partai, bangsa, kelas, fraksi, paguyuban, massa, ras, regu, suku, klan, hingga manusia itu sendiri merupakan istilah lain untuk menyatakan kelompok. Banyaknya ragam kelompok membuat satu manusia bisa menjadi bagian dari sejumlah kelompok sekaligus tanpa harus saling bertolak.

Organisasi itu bernama IKAMIFDA
Satu kelompok terstruktur yang dikenal dengan istilah organisasi dibentuk untuk menanggapi kegelisahan alumni perguruan di pesisir utara Pati. Madrasah Miftahul Huda (MMH), nama perguruan itu. IKAMIFDA sebagai kependekan dari Ikatan Alumni Miftahul Huda diambil sebagai nama untuk organisasi tersebut. Reuni akbar perdana yang berlangsung pada satu hari di bulan Idulfitri 1430 menjadi penanda berdirinya organisasi yang diklaim berasas kekeluargaan.

Inisiatif pembentukan IKAMIFDA mulanya datang dari alumni 2007, Faridlatul Hasanah dan Ulya Khoirotunnisa, saat sowan ke salah seorang guru, Bapak Asjhari Umar, pada Syawal 1429 atau Oktober 2008. Guru yang mengampu mata pelajaran matematika di Madrasah Aliyah (MA) Miftahul Huda itu menganjurkan agar dibentuk wadah bagi lulusan MMH Tayu. Anjuran pembentukan kelompok ini dimaksud untuk mengumpulkan kembali alumni, tidak sekadar dilepas saat acara akhirussanah usai.

IKAMIFDA seusai mengisi MPLS MA Miftahul Huda Tahun 2018 (Dokumentasi IKAMIFDA)

Anjuran Bapak Asjhari kemudian diteruskan Farid ke Bapak Nasichul Amin yang kala itu menjabat sebagai Kepala MA Miftahul Huda Tayu. Beliau pun menyambut baik usulan tersebut. Kemudian sejumlah alumni yang mewakili angkatan 2006 sampai 2008 berunding untuk mengumpulkan massa lebih banyak dalam suatu acara. Hasilnya, mereka sepakat mengadakan Reuni Akbar pada Syawal 1430.

Sayangnya karena keterbatasan teknologi dan media komunikasi kala itu, tak banyak yang dapat terpanggil ke acara. Banjir yang cukup besar pada tahun 2006 menyebabkan banyak data alumni yang tak seluruhnya tersimpan rapi dalam sistem komputer atau internet turut tersapu bersama air dan lumpur.

Setidaknya terdapat lima angkatan alumni termuda kala itu, yakni alumni 2005 hingga 2009 yang datang ke Reuni Akbar. Acara yang berlangsung pada 5 Syawal 1430 atau 24 September 2009 di lantai tiga gedung MA Miftahul Huda selanjutnya dikenang sebagai hari lahir IKAMIFDA. Ahmad Arifin dari alumni 2007 terpilih mengungguli rivalnya menjadi ketua IKAMIFDA pertama dalam acara itu pula.

Gelombang gamang
Hampir tidak ada kegiatan yang diselenggarakan maupun pencapaian lain bagi organisasi usai pembentukan IKAMIFDA pada 2009. Kosongnya kegiatan membuat IKAMIFDA yang sempat terdengar cuitannya kembali tenggelam di antara keramaian media sosial. Tiga tahun usai pemilihan ketua pertama, baru diadakan kegiatan kembali, reuni. Reuni Akbar IKAMIFDA ke-2 yang diadakan pada Juli 2012 mengundang lebih banyak alumni, terdiri dari 10 angkatan dari lulusan 2001 sampai 2011.

Penyelenggaraan Reuni Akbar IKAMIFDA ke-2 menegaskan bahwa IKAMIFDA masih hidup, walau redup. Namun pelaksanaan acara ini mampu menggerakkan anggotanya untuk menumbuhkan IKAMIFDA yang layu. Hingga akhirnya pada tahun 2013, terlaksana kegiatan Tryout SBMPTN IKAMIFDA (TOSIDA). TOSIDA, kegiatan tes percobaan masuk perguruan tinggi dengan sasaran kelas XII sebagai pesertanya. Penyelenggaraan acara TOSIDA mulai memperlihatkan sayap IKAMIFDA ke luar anggota.

Meski suara dan sayap IKAMIFDA dikenal, dalam organisasi sendiri sering tampak riak keributan. Tidak sedikit anggota yang mempertanyakan peran pengurus IKAMIFDA, kendati selama empat tahun hanya dua acara yang menghiasi. Apalagi usai TOSIDA pertama, desakan penggantian ketua sekaligus pengurus makin kerap terjadi. Beberapa perundingan pun dilakukan untuk mendiskusikan masalah kepengurusan.

Saat penggantian pengurus akhirnya terjadi juga. Setelah mengisi acara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di MA Miftahul Huda, beberapa alumni mengadakan pemilihan ketua IKAMIFDA. Pemilihan yang diadakan pada Juli 2015 di lantai dua Masjid Al-Amin Tayu itu dihadiri sepasang perwakilan dari angkatan terbaru 2015 sampai 2008 saja. Syamsudin, alumnus 2010 dipilih sebagai Ketua IKAMIFDA Kedua mengungguli M. Maulin Naufa dari alumnus 2008 dan M. Najmul Umam alumnus 2009. Lantaran belum adanya peraturan yang gamblang dalam organisasi ini, pemilihan ketua tersebut dianggap sah.

Setelah struktur organisasi pengurus sedikit lebih jelas, perkara keanggotaan mulai dipertanyakan dan butuh dibahas. Apakah anggota IKAMIFDA adalah mereka yang pernah lulus dari tiap tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanaiyah (MTs), dan MA? Apakah mereka yang sempat mendaftar tapi tidak melanjutkan belajar di MMH masuk anggota IKAMIFDA? Pertanyaan serupa itu terus berkelindan dalam kepala hingga diperoleh jawaban yang memuaskan angan dan rasa.

Memang, hingga berusia enam tahun setelah kelahirannya, kumpulan ini belum memiliki dasar aturan. Pertanyaan-pertanyaan mendasar organisasi pun dijawab sekadarnya, setahunya. Bahkan kepanjangan nama organisasi juga sempat menjadi perdebatan tegal belum terdokumentasi pasti dan masuk dalam aturan dasar organisasi.

Hingga kemudian, pada 8 Juli 2018 dirumuskanlah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) IKAMIFDA. Perumusan AD/ART IKAMIFDA berlangsung di rumah alumnus 2009, M. Najmul Umam di Desa Bulungan. Dalam aturan tersebut juga disusun ulang kepanjangan nama Organisasi IKAMIFDA.

IKAMIFDA di awal pendirianya memiliki kepanjangan Ikatan Alumni Miftahul Huda. Seiring perjalanannya, IKAMIFDA mendapatkan pengubahan yang beragam. Lema ‘Keluarga’ pernah menyusup di antara kata ‘Ikatan’ dan ‘Alumni’ yang seolah meneguhkan kekeluargaan organisasi. Ada pula yang menambahkan ‘Madrasah’ sebelum frasa ‘Miftahul Huda’. Perbedaan ini memberi kesan bahwa IKAMIFDA tampak sebagai organisasi yang ‘sepenting mlaku’ dalam usianya yang tak bisa dianggap hanya dapat berjalan saja.

Dalam AD IKAMIFDA diberlakukan penghapusan lema ‘Keluarga’ yang sempat muncul dengan alasan pemborosan kata, sebab telah tercantum ‘Ikatan’ yang memiliki arti serupa. Selain itu, ditambahkan pula ‘Aliyah’ di antara ‘Madrasah’ dan ‘Miftahul Huda’ untuk mempertegas siapa anggota dari organisasi tersebut. Dengan demikian, kepanjangan IKAMIFDA sebagaimana tertuang dalam AD adalah Ikatan Alumni Madrasah Aliyah Miftahul Huda.

Sementara itu, anggota IKAMIFDA yang dimaksud dalam AD IKAMIFDA ialah mereka yang telah menyelesaikan masa belajarnya di Madrasah Aliyah (MA) Miftahul Huda Tayu. Poin utamanya adalah lulusan dari MA, sehingga alumni Madrasah Ibtidaiyah (MI) maupun Madrasah Tsanawiyah (MTs) Miftahul Huda yang tidak melanjutkan ke MA hingga lulus tidak masuk sebagai anggota IKAMIFDA.

Masalah selalu ada. Meski telah tersusun, AD/ART yang disahkan pada tahun 2018 tetap memunculkan banyak tanya, dan perubahan akan selalu menjadi keniscayaan.

Kerjaan IKAMIFDA
IKAMIFDA memiliki program rutin tiap tahun yang cukup membuat IKAMIFDA terlihat mentereng, TOSIDA namanya. Selain TOSIDA, Program Kantong Peduli (KP) juga menjadi unggulan bagi mereka. KP merupakan program beasiswa bagi murid berprestasi MA Miftahul Huda yang kurang mampu dalam bidang ekonomi. Dana beasiswa KP dikumpulkan dari alumni yang menjadi donatur tetap maupun sewaktu.

Corp Brass Reunion (CBR) of Em Em Ha setelah mengikuti Jalan Sehat dalam rangka Haul Mbah Sholeh Amin Tayu Ke-80 (Dokumentasi IKAMIFDA)

Ada pula program yang tampak kecil seperti Tahtiman Alquran, Takziyah, Buka Bersama juga berjalan kala diperlukan. Program lainnya yang lumayan ramai ialah ketika menjadi tim hore, di pawai misalnya.

Tujuan awal pendirian organisasi IKAMIFDA untuk mengumpulkan alumin memang telah tercapai sejak reuni akbar pertama diadakan. Sementara tujuan setelah dikumpulkan terlewat dipikirkan. Apa yang mau dilakukan setelah berkumpul? Tak cukup ‘hahaha’ saja kan?

Komentar

Posting Komentar

Populer

Fenomena Jelang Tahun Duda yang Menyekik Kegengsian

Dokumentasi Pribadi Agustus kali ini terasa begitu ramai, terutama bagi muslim di daerah Jawa. Selain terdapat dua perayaan besar, Lebaran Haji dan Ulang Tahun RI, ada perayaan lain yang mampu meningkatkan tekanan dan kolesterol darah dalam tubuh. Tumpukan undangan nikah berdesakan merayu dompet yang belum sempat penuh. Yap, sebulan ini banyak orang menyelenggarakan pesta pernikahan. Saking jamaknya, dalam sehari bisa mencapai belasan acara. Bahkan pada hari tertentu yang dinilai baik, akad nikah sekecamatan berlangsung tak kurang 27 kali. Iya, sebanyak 27 ucap akad nikah sah di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, dalam sehari. Itu terjadi tanggal 18 Agustus lalu saat jalanan tampak rasa lebaran. Yang bingung siapa? Petugas KUA, mengatur jadwal agar tak tumpang tindih sekaligus sesuai hasil hitung-hitungan sesepuh penyelenggara acara. Yang ketar-ketir siapa? Yang diundang, meraba-raba isi dompet apakah bisa pindah ke amplop dan tetap cukup untuk ngopi di warkop. Yang gala...

Surat Kartini untuk Bangsanya

Dokumentasi pribadi Saya dikenalkan dengan R.A. Kartini (Raden Adjeng sebelum menikah, Raden Ayu usai menikah) lewat mata pelajaran sejarah sekadar sebagai pahlawan perempuan Indonesia. Kartini perempuan asli Jepara yang lahir pada bulan yang sama dengan bulan lahir saya, April. Hanya beda tipis tanggal dan tentu saja beda jauh tahun lahir. Selain dari tempat dan tanggal lahir, sosok ibu yang fotonya dipasang di dinding kelas Ibtidaiyah saya dulu—sehingga gambar dirinya cukup melekat dalam pikiran—selalu berpakaian kebaya, rambut tersanggul rapi, khas perempuan ningrat Jawa. Kartini, satu-satunya puan yang namanya diabadikan menjadi judul lagu wajib nasional gubahan penyair yang juga mencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia, Wage Rudolf Supratman. Ibu Kita Kartini , judul lagunya. Penghargaan semacam ini tentu tak sembarang diberikan. Menggunakan nada sederhana membuat lagu tersebut akrab dinyanyikan anak-anak, meski tak seluruh lirik tergelorakan hingga terdenga...